Tugas, Rapat dan Diri Sendiri yang Kelelahan: Cerita yang Jarang Diceritakan
Oleh: Nurul Fadila (Mahasiswi Sastra Minangkabau, Universitas Andalas)
Hampir semua orang tahu bahwa berorganisasi itu penting. Kita sudah mendengar sejak jadi mahasiswa baru, bahwa organisasi adalah tempat untuk belajar, tumbuh, dan mempersiapkan diri untuk dunia kerja. Tapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan: rasa lelah, jenuh, dan perlahan mulai kehilangan semangat dalam berorganisasi. Cerita yang tak tertulis, tapi dirasakan oleh banyak mahasiswa aktivis organisasi kmpus.
Tulisan ini bukan untuk mengajakmu berhenti berorganisasi, bukan juga untuk mengeluh. Aku hanya ingin menceritakan sebuah kenyataan: bahwa ada kalanya kita terlalu sibuk membantu banyak hal, hingga lupa membantu diri sendiri. Bahwa di balik rapat-rapat, proposal yang harus segera dikumpulkan, amanah dan tanggung jawab sebagai “pengurus,” ada jiwa yang diam-diam menjerit karena lelah.
Antara Semangat Awal dan Realita di Lapangan
Momen awal masuk organisasi rasanya menyenangkan. Ada rasa ingin terlibat, ingin punya teman baru, dan ingin menjadi versi mahasiswa yang aktif dan produktif, ingin memberikan kontribusi maksimal untuk organisasi. Semua hal tersebut terasa seru dan menantang. Tapi kian lama, realita mulai muncul. Rapat yang molor sampai larut malam. Tugas yang datang bertubi-tubi, sering kali di luar kapasitas. Kerja tim yang tidak merata, dan kewajiban akademik yang juga perlu ditunaikan.
Kita mulai bertanya-tanya, “Kenapa ya, aku merasa makin hari makin capek?”
Dan di situ, kita juga mulai meragukan semangat yang dulu kita punya.
Apakah ini benar-benar panggilan hati, atau hanya karena merasa “harus bertanggung jawab”?
Budaya “Sibuk Itu Hebat” yang Menjebak
Ada budaya tak tertulis di kalangan mahasiswa: sibuk itu keren. Yang jarang pulang ke kos karena rapat dianggap aktif. Yang kelihatan sering bawa laptop dan stres, dianggap berdedikasi. Kita tanpa sadar menormalisasi kelelahan. Bahkan mengglorifikasi overwork. Seakan-akan tidur larut malam karena revisi proposal adalah lambang perjuangan.
Padahal, tidak jarang itu justru bentuk dari ketidakseimbangan hidup. Kita mulai kehilangan waktu untuk diri sendiri. Tidak ada ruang untuk jujur pada teman satu tim bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Bahkan ketika tubuh memberi sinyal lelah, kita memilih menundanya, karena takut dibilang tidak loyal.
“Kalau aku nggak hadir rapat, takut dibilang nggak peduli.”
“Kalau aku izin istirahat, nanti dikira nggak tanggung jawab.”
Dan seperti itu, kita terus berjalan. Terus memenuhi ekspektasi. Sampai akhirnya, kita jatuh.
Saat Jenuh Mulai Menggerogoti
Jenuh itu datang diam-diam. Tidak langsung terasa. Tapi perlahan mulai menggerogoti semangat. Kita tetap hadir dalam rapat, tapi tidak lagi punya energi untuk berpikir. Kita tetap membalas pesan di grup, tapi dengan hati yang berat. Kita tetap mengerjakan tugas divisi, tapi sambil mempertanyakan: “Untuk apa, sih, semua ini?”
Di saat seperti itu, perasaan bersalah sering muncul. Kita merasa gagal. Merasa tidak sekuat teman-teman lain. Merasa sendirian. Padahal sebenarnya, banyak yang juga merasakannya—tapi memilih diam.
Istilah kekiniannya mungkin kita kenal dengan burnout. Kelelahan yang tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Dan kalau sudah sampai tahap itu, bahkan hal kecil seperti membuat caption Instagram acara pun bisa terasa beratnya seperti menulis skripsi.
Menyadari Batas Diri: Istirahat Itu Perlu
Kita perlu tahu satu hal: istirahat bukan berarti menyerah. Istirahat adalah bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Karena sebelum menjadi pengurus organisasi yang kita jalani, kita adalah manusia. Kita punya batas. Dan mengenali batas itu bukan bentuk kelemahan, tapi justru kekuatan.
Menyadari bahwa kita lelah adalah langkah awal untuk pulih. Kita boleh rehat. Kita boleh mengurangi aktivitas. Kita boleh bilang “nggak dulu ya” saat diajak rapat tambahan. Karena organisasi adalah sarana, bukan segalanya. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengurus acara dan proker, sampai lupa untuk peduli pada diri sendiri.
Organisasi harusnya membentuk kita menjadi lebih kuat, bukan menghancurkan pelan-pelan. Harusnya jadi tempat bertumbuh, bukan tempat untuk membuktikan diri secara berlebihan.
Saling Jaga, Bukan Saling Dorong
Kita juga perlu budaya baru dalam organisasi: budaya saling jaga. Budaya untuk bertanya kabar, bukan cuma menagih revisi. Budaya untuk memberi ruang istirahat, bukan memaksa tetap aktif di tengah kelelahan.
Pemimpin organisasi bukan hanya yang menjadi paling aktif, tapi juga harus menjadi sosok yang paling peka. Anggota terbaik bukan hanya yang paling rajin, tapi juga yang tahu kapan harus membantu temannya untuk berhenti sejenak. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberikan ruang aman untuk semua orang tumbuh—dengan kecepatannya masing-masing.
Penutup: Kalau Kamu Lelah, Itu Nggak Apa-Apa
Kalau kamu sedang merasa jenuh, sedang merasa rapat dan tugas organisasi mulai menggerogoti hidupmu, ketahuilah: kamu nggak sendiri. Banyak dari kita juga pernah merasakannya.
Kamu tidak harus selalu kuat. Kamu tidak harus jadi panitia segala acara. Kamu tidak harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Yang kamu butuhkan adalah ruang untuk bernapas. Waktu untuk memeluk diri sendiri dan berkata: “Aku sudah cukup berusaha.” Dan itu tidak apa-apa.
Karena menjadi bagian dari organisasi tidak harus selalu berarti hadir di setiap rapat. Kadang, bentuk kontribusi terbaik adalah menjaga diri sendiri agar tetap utuh. Supaya nanti, saat kamu kembali, kamu bisa hadir sepenuhnya—dengan hati yang pulih dan semangat yang tulus. Hidupmu jauh lebih penting dari sekadar rapat yang selesai tepat waktu. Karena kebahagiaanmu jauh lebih berharga dari sebuah absensi di Google Sheet. Dan karena kamu, sebelum menjadi pengurus, adalah manusia yang punya hak untuk istirahat, untuk pulih, dan untuk kembali—dengan semangat yang lebih sehat.