Hilirisasi Inovasi Pertanian: Mahasiswa KKN UNAND Memperkenalkan Produk Pupuk Organik Cair dan Silase Untuk Pakan Ternak di Nagari Dilam, Bukit Sundi Kabupaten Solok
Oleh : Azzahra Rangkuti1 Safika Khairunnisa2 Thari Ramadhani3 dkk.
1,2,3Universitas Andalas
Inovasi pertanian berbasis sumber daya lokal semakin penting untuk menjaga ketahanan pangan dan keberlanjutan linkungan. Pertanian di Nagari Dilam, Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok, berpusat pada budidaya padi sawah, terutama dengan adanya pengembangan lahan sawah baru di Jorong Kapalo Koto. Sekelompok mahasiswa KKN UNAND mengambil langkah berani dengan memperkenalkan pupuk organik cair dari sekam bakar dan silase untuk pakan ternak dari jerami jagung. Inovasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian lokal, tetapi juga mengatasi tantangan seperti ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pakan ternak berkualitas rendah, yang sering menghambat petani dan peternak kecil di Nagari Dilam. Pupuk organik cair berbasis sekam bakar, menawarkan solusi ramah lingkungan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan aktivitas mikroba dalam tanah. Sementara itu, silase untuk pakan ternak merupakan hasil fermentasi dari Jerami jagung yang menyediakan nutrisi seimbang dan tahan lama untuk ternak. Melalui inovasi ini, mahasiswa tidak hanya mendemonstrasikan hasil produk, tetapi juga membangun Kerjasama dengan petani setempat. Artikel ini akan mengulas proses pembuatan produk, dampaknya terhadap masyarakat, serta tantangan dan peluang yang muncul dalam pengimplementasiannya.Pupuk organik cair merupakan cairan atau larutan hasil dari pembusukan bahan-bahan organic yang berasal dari limbah pertanian, limbah rumah tangga, ataupun kotoran hewan dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Pupuk organic cair mempunyai beberapa manfaat diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, memperbaiki kesuburan dan struktur tanah serta meningkatkan aktivitas mikroba dalam tanah.
Pupuk organik cair yang dihasilakn dari sekam bakar merupakan inovasi pertanian yang memanfaatkan limbah pertanian sebagai sumber nutrisi alami, khususnya di daerah pedesaan seperti Nagari Dilam Bukit Sundi, di mana sekam padi melimpah dari hasil panen padi. Sekam bakar, atau abu sekam, diperoleh melalui pembakaran sekam padi dalam kondisi terkendali untuk menghasilkan abu halus yang kaya akan mineral esensial seperti kalium (sekitar 10-15% berat), fosfor, magnesium, dan silikon, yang berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan serta hama.
POC sekam bakar ini dibuat dengan menambahakan larutan EM4 sebagai bahan untuk mempercepat proses fermentasi dan molase digunakan sebagai makanan dari bakteri EM4 tersebut. Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan POC yaitu ember, saringan, pengaduk, sekam bakar, EM 4, molase dan air. Perbandingan bahan yang digunakan yaitu 1 kg sekam bakar memerlukan 10 liter air, 100 ml EM4 dan 200 ml molase. Fermentasi dilakukan selama 14 hari, dimana setiap 2 hari sekali dilakukan monitoring untuk menjaga kestabilan proses fermentasi.
POC sekam bakar bermanfaat sebagai sumber unsur hara dan mikroorganisme yang dapat memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan aktivitas mikroba, serta memperbaiki struktur dan aerasi tanah sehingga mendukung pertumbuhan tanaman.Silase yang dibuat dari jerami jagung adalah solusi inovatif untuk pakan ternak berkualitas tinggi, terutama di wilayah seperti Kabupaten Solok di mana jerami jagung merupakan limbah panen yang sering terbuang sia-sia, padahal kaya akan serat, energi, dan nutrisi potensial Jerami jagung, yang terdiri dari batang dan daun setelah biji dipanen, memiliki kandungan serat kasar sekitar 70-80%, protein rendah (5-8%), dan energi metabolis yang dapat ditingkatkan melalui fermentasi anaerobik menjadi silase yang mudah dicerna dan tahan lama.
Silase ini dibuat dengan memanfaatkan limbah pertanian berupa jerami jagung sebagai bahan utama, yang dikombinasikan dengan dedak, larutan EM4, molase, dan air sebagai bahan tambahan. Dedak dan molase berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, EM4 mempercepat proses fermentasi anaerobik, sedangkan air membantu mencapai kadar kelembapan yang optimal. Penambahan bahan-bahan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas fermentasi, daya simpan, serta kecernaan dan palatabilitas silase bagi ternak ruminansia.
Silase jerami jagung bermanfaat sebagai pakan alternatif ternak ruminansia yang memanfaatkan limbah pertanian, memiliki daya simpan lama, serta kecernaan dan nilai energi yang lebih baik dibanding jerami segar, sehingga membantu memenuhi kebutuhan pakan terutama pada musim kemarau.
Pemanfaatan sekam bakar dan jerami jagung sebagai pupuk organik cair dan silase menunjukkan bahwa limbah pertanian dapat diolah menjadi solusi praktis dan berkelanjutan bagi peningkatan produktivitas pertanian dan peternakan. Melalui inovasi sederhana berbasis sumber daya lokal serta kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, upaya ini mendorong kemandirian petani, meningkatkan kualitas tanah dan pakan ternak, serta mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal. (**)