Inovasi Mahasiswa KKN UNAND di Nagari Dilam Bukit Sundi Kabupaten Solok: Mengubah Limbah Sapi Menjadi Pupuk Organik dan Suplemen Blok Pakan Ternak
Oleh : Annisa Istiqomah¹, Nasya Dwi Amara², Puti Salwa³ dkk.
Universitas Andalas.
Gambar 1: Pendisribusian hasil produk pupuk organik dan urea mulases blokKabupaten Solok merupakan salah satu wilayah yang berada di Sumatera Barat, wi layah ini memiliki keunggulan di bidang peternakan khususnya peternakan sapi, karena nilai geografis nya yang strategis di jalur lintas Sumatera dan adanya ketersediaan hijauan yang melimpah serta udara yang sejuk. Menurut Badan Pusat Statistik (2024), populasi sapi di Kabupaten Solok kurang lebih sekitar 2.277 ekor. Kabupaten Solok memiliki 74 nagari dan 14 kecamatan. Umumnya masyarakat di Kabupaten Solok menjadikan ternak sapi sebagai pendukung di sektor ekonomi, salah satunya di nagari Dilam Kecamatan Bukit Sundi. Setiap Masyarakat di Nagari Dilam memiliki ternak sapi. Mahasiswa KKN UNAND membawa inovasi ramah lingkungan di Nagari Dilam Kecamatan Bukit Sundi, Kabupaten Solok. Dengan mengolah limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik dan ju-ga suplemen blok pakan ternak, adanya inovasi tersebut dapat mengatasi permasalahan limbah ternak yang sering dianggap tidak bermanfaat dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat.
Tumpukan limbah ternak menimbulkan bau yang tidak sedap dan menganggu ke-sehatan ternak itu sendiri, serta menurunkan kenyamanan hidup masyarakat di Nagari tersebut. Peternak rumah tangga kesulitan dalam mengolah limbah secara mandiri kare-na kurangnya pengetahuan dan alat, sehingga bergantung pada metode tradisional yang tidak ramah lingkungan bahkan ada limbah ternak yang dibiarkan begitu saja. Maha-siswa UNAND berupaya untuk mengolah limbah tersebut menjadi pupuk organik ramah lingkungan dengan melibatkan kontribusi aktif masyarakat Nagari Dilam. Dikarenak-an aktivitas harian para peternak di Nagari Dilam dimulai dari pagi hingga sore hari, menyebabkan tidak semua peternak dapat berpatisipasi dalam kegiatan tersebut secara aktif, tetapi tetap memberikan bantuan, dukungan dan kontribusi pasif yang menyokong dijalankannya pembuatan pupuk organik tersebut.
Pupuk organik dibuat melalui proses fermentasi kotoran sapi dengan penambahan. bahan pendukung seperti EM4, sekam, tanah hitam, molases dan juga air. Dalam pem-buatan pupuk organik ini membutuhkan perbandingan bahan baku sebanyak 1:1:1 antara kotoran sapi, tanah hitam dan juga sekam sebagai bahan baku utama. untuk perban dingan bahan pendukung adalah 1:1:100 antara EM4, molases dan air. Dengan contoh perbandingan 10 ml EM4 dicampur dengan 10 ml molases dan dilarutkan dalam 1 liter air. Langkah awal pembuatan pupuk adalah dengan mencampurkan bahan baku utama yaitu kotoran sapi, tanah hitam dan sekam padi, setelah tercampur rata campurkan la-rutan EM4, molases dan juga air dan kemudian larutan tersebut disiramkan ke campuran bahan utama, terakhir tutup pupuk dengan terpal. Fungsi dari bahan pendukung EM4 dan molases untuk mempercepat proses fermentasi, dengan bantuan campuran mikroor-ganisme yang efektif dalam fermentasi. Proses fermentasi dilakukan kurang lebih dalam jangka waktu 3 sampai dengan 4 minggu, monitoring dilakukan setiap 4 hari sekali dengan cara pengadukan pupuk organik serta penambahan air agar pupuk yang difermentasi ti-dak kering dan proses dekomposisi bahan dapat berlangsung dengan maksimal, sehingga dapat menghasilkan pupuk organik yang ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai media tanam bagi petani untuk meningkatkan kesuburan tanah dan dapat meningkatkan penghasilan peternak dengan menjual hasil pupuk tersebut..
Gambar 2: Proses pembuatan pupuk organik dari limbah sapi
Selain pupuk organik dari kotoran sapi yang ramah lingkungan. Mahasiswa KKN UNAND menghadirkan inovasi baru dengan pembuatan suplemen pakan berbentuk blok yang memanfaatkan limbah pertanian yaitu dedak padi sebagai salah satu bahan baku utama. Selain itu terdapat juga bahan baku utama lainnya yaitu urea dan molases, serta terdapat tambahan bahan lain seperti semen putih, garam, dan mineral premix. Pembu-atan UMB membutuhkan paralon sebagai cetakan, wadah plastik, nampan, kayu sebagai penyampa blok agar terdapat lubang di bagian tengah blok untuk tempat mengaitkan kawat dan kawat sebagai gantungan suplemen ketika sudah siap pakai. Mahasiswa KKN UNAND membuat UMB sebanyak 300 gram dengan perbandingan molases 35 persen, dedak 25 persen, urea 10 persen, garam 4 persen, mineral premix 4 persen dan semen
putih 10 persen. Langkah pembuatan nya dimulai dengan mencampurkan molases, urea, semen putih, garam, mineral premix, dedak dan diaduk hingga rata. Setelah adonan tercampur rata selanjutnya cetak dengan paralon dan sangga bagian tengah dengan kayu agar terdapat lubang. UMB dikeringkan kurang lebih dalam jangka waktu 2 sampai de-ngan 3 minggu dengan cara dianginkan dan tidak boleh dibawah sinar matahari langsung agar kandungan yang terdapat didalamnya tidak berkurang. UMB bermanfaat sebagai suplemen untuk meningkatkan nafsu makan sapi, menyeimbangkan mikloflora rumen, me ningkatkan pencernaan protein dan serat serta menjaga keseimbangan cairan tubuh sapi.
Melalui inovasi pengolahan limbah sapi menjadi pupuk organik dan blok pakan ternak, mahasiswa UNAND berupaya menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata. Inovasi ini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat Nagari Dilam, yaitu untuk meng-urangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian dan peternakan, serta meningkatkan produktivitas ternak. Masyarakat Nagari Dilam juga memperoleh pengetahuan baru mengenai pengelolaan limbah yang berkelanjutan serta peluang usaha berbasis sumber daya lokal. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi inspi-rasi bagi daerah lain dalam mengelola limbah ternak secara produktif dan berkelanjutan.
Gambar 3: pembuatan UMB