#Kabur Aja Dulu: Gerakan Emosional Anak Muda Melawan Ketidakpastian Ekonomi
Nama : TESSA AGUSTINA
NIM : 2310832013
ASAL: MAHASISWA ILMU POLITIK UNIVERSITAS ANDALAS
Dalam beberapa tahun terakhir, jagat maya diramaikan dengan ungkapan sarkastis anak muda: “ya udah, #KaburAjaDulu.” Bagi sebagian orang, ini hanya sekadar lelucon internet atau meme yang viral di TikTok dan Twitter (X). Tapi kalau ditelusuri lebih dalam, ungkapan itu merefleksikan kondisi psikologis generasi muda Indonesia yang semakin terhimpit oleh ketidakpastian ekonomi. Bukan cuma sekadar “lari dari kenyataan,” #KaburAjaDulu sebenarnya adalah ekspresi keputusasaan sekaligus bentuk perlawanan emosional anak muda terhadap sistem yang dianggap gagal memberi kepastian atas masa depan mereka.
Fenomena ini lahir dari kenyataan sehari-hari. Upah minimum yang seringkali tidak sebanding dengan biaya hidup di kota, harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya pendidikan yang semakin mencekik, ditambah dengan pasar kerja yang penuh persaingan namun miskin lapangan pekerjaan. Anak muda dihadapkan pada dilema: kerja keras tanpa jaminan kesejahteraan, atau menyerah pada sistem yang timpang. Maka tidak heran kalau sebagian dari mereka memilih untuk “kabur” dan resign mendadak dari pekerjaan toxic, meninggalkan kampus karena biaya kuliah tidak terjangkau, hingga merantau tanpa arah yang jelas demi sekadar mencari peluang baru.
Gerakan #KaburAjaDulu juga dapat dibaca sebagai bentuk gerakan sosial baru sebagaimana dijelaskan oleh Oman Sukmana (2016) dalam bukunya Konsep dan Teori Gerakan Sosial. Menurutnya, gerakan sosial tidak selalu berbentuk aksi kolektif di jalan atau organisasi massa, tetapi juga bisa muncul dari ekspresi kultural dan emosional individu yang terhubung secara simbolik melalui media. Dalam konteks ini, “kabur” bukan sekadar tindakan personal, melainkan bentuk protes diam terhadap ketidakpastian ekonomi dan tekanan sosial yang dialami generasi muda. Gerakan ini memiliki ciri khas gerakan sosial baru yang bersifat cair, tidak terstruktur, dan banyak digerakkan oleh identitas, emosi, serta narasi digital ketimbang ideologi politik. Melalui tagar dan wacana daring seperti #KaburAjaDulu, anak muda membangun solidaritas simbolik yang menandakan kekecewaan kolektif terhadap sistem ekonomi yang dirasa tidak adil.
Kasus nyata dari g erakan ini bisa dilihat pada gelombang PHK massal di sektor startup sejak 2024 hingga awal 2025. Ribuan karyawan muda yang sebelumnya digembar-gemborkan sebagai bagian dari “ekonomi digital” terpaksa kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat. Banyak dari mereka yang akhirnya memilih untuk tidak kembali bekerja di korporasi, melainkan membuka usaha kecil, menjadi freelancer, atau bahkan mengandalkan pekerjaan sampingan di platform digital. Sebagian lagi mengambil keputusan drastic yaitu resign tanpa rencana jelas, dengan alasan kesehatan mental yang tertekan. Fenomena ini dikenal sebagai quiet quitting atau bahkan loud quitting, sebuah bentuk nyata dari #KaburAjaDulu.
Tak berhenti di situ, data BPS 2025 menunjukkan bahwa angka pengangguran terbuka tertinggi masih berasal dari kelompok usia muda (15-24 tahun). Artinya, generasi yang seharusnya sedang produktif justru paling rentan terhadap ketidakpastian. Banyak yang akhirnya “kabur” ke pekerjaan serabutan, menjadi kurir ojek online, berjualan online kecil-kecilan, atau bahkan mencoba peruntungan di luar negeri. Semua ini memperlihatkan betapa dalamnya krisis kepercayaan anak muda terhadap janji negara untuk menyediakan lapangan kerja yang layak.
Gerakan emosional ini memang tidak selalu terlihat seperti demonstrasi di jalan atau protes terbuka. Ia hadir dalam bentuk yang lebih halus/soft quitting, budaya healing yang jadi-jadian, atau migrasi digital ke dunia freelance yang dianggap lebih bebas. Anak muda seolah ingin menunjukkan bahwa mereka tidak lagi percaya sepenuhnya pada jalur konvensional yang dijanjikan negara, sekolah-kuliah-kerja-mapan. Sebaliknya, mereka memilih jalannya sendiri, meski jalur itu penuh ketidakpastian.
Namun, apakah #KaburAjaDulu hanya sekadar ekspresi lelah? Tidak juga. Di balik sikap emosional ini terselip kritik sosial yang kuat. Ungkapan tersebut sebenarnya adalah sindiran keras terhadap pemerintah yang gagal menjamin stabilitas ekonomi, terhadap perusahaan yang masih memeras tenaga kerja dengan gaji minim, dan bahkan terhadap masyarakat yang sering menyalahkan generasi muda sebagai “generasi instan” tanpa pernah memahami tekanan hidup yang mereka alami. Dengan kata lain, “kabur” bukan berarti pasrah, melainkan upaya anak muda mencari ruang hidup baru yang lebih manusiawi.
Kritiknya adalah, sampai kapan pemerintah hanya melihat fenomena ini sebatas guyonan internet? Realitanya, generasi muda adalah tulang punggung produktivitas bangsa. Jika mereka memilih kabur, maka yang hilang bukan hanya tenaga kerja, tapi juga energi kreatif yang seharusnya bisa membangun negeri. Dan jika #KaburAjaDulu terus menjadi budaya, kita harus bertanya, apakah negara sedang kehilangan generasi yang percaya pada sistemnya sendiri?
Pada akhirnya, #KaburAjaDulu bukan sekadar tren, melainkan alarm. Ia adalah bahasa emosional anak muda yang jenuh dengan ketidakpastian ekonomi. Gerakan ini lahir bukan dari ruang kosong, melainkan dari kondisi sosial-ekonomi yang makin tidak berpihak pada mereka. Tugas kita sebagai mahasiswa bukan hanya ikut-ikutan healing atau ikut menyebarkan meme, tetapi membaca gejala ini sebagai tanda bahwa ada yang salah dalam sistem, dan perubahan tidak bisa ditunda lebih lama. Kalau tidak, bisa jadi yang “kabur” bukan hanya generasi muda dari pekerjaannya, tapi juga kepercayaan mereka terhadap masa depan Indonesia.