Indonesia Darurat Apresiasi
Indonesia darurat apresiasi, mungkin kalimat itulah yang cocok untuk beberapa kondisi yang kini marak terjadi. Kondisi yang tak lain menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap orang-orang yang berpartisipasi penting dalam membela negara, menjadi salah satu topik yang patut kita perhatikan dan diskusikan bersama. Bagaimana tidak? Pasalnya penghargaan-penghargaan yang diberikan terkadang salah tempat tujuan. Contohnya dalam beberapa kasus, anak-anak yang berprestasi dalam teknologi dan ilmu pengetahuan tidak disorot lebih oleh negara sendiri. Tetapi, tidak dengan hal-hal yang tak begitu penting untuk diintip, justru hal-hal ini malah dipublikasikan secara luas dan dipandang hormat. Sebut saja kasus anak-anak Citayem Fashion Week, salah satu di antara mereka diusung-usung untuk menduduki jabatan sebagai Duta Kejaksaan. Padahal jabatan itu bukanlah sebuah pangkat biasa yang bisa diambil semua orang, terlebih lagi jika orang tersebut tidak ahli di bidangnya.
Selain dua kasus di atas, masih banyak lagi kasus lainnya yang serupa. Bisa dikatakan, warga negara kita nampaknya memang lebih suka hal-hal yang random terlebih lagi menghibur. Entah itu dalam konteks humor, kontroversi, dan lain-lain yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ini memang tidak sepenuhnya negatif, tetapi ketidakseimbangan antara apresiasi pada orang biasa dengan orang yang luar biasa benar-benar diluar ekspektasi.
Jika berbicara tentang realita, masyarakat sekarang ini terutama di kalangan netizen lebih menyarankan agar anak-anak yang berprestasi di Indonesia untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Hal tersebut bukan bermaksud tidak merekomendasikan pendidikan dalam negeri, tetapi sayangnya pemerintah terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Seperti tidak ada lagi waktu untuk sekadar "mengagumi" mahakarya anak bangsa. Pandangan netizen tersebut secara tidak langsung menyampaikan bahwa daripada tidak didukung di negeri Konoha, lebih baik pemuda-pemudi yang budiman menempuh pendidikan di negara yang bisa mengakui keberadaanya. Karena peluang untuk mengembangkan karir serta menerima pencapaian atas penemuan dan mahakarya rasanya lebih besar di luar sana.
Bakat-bakat anak muda yang luar biasa tidak akan begitu menarik perhatian media lokal. Pemerintah lebih suka menayangkan sesuatu yang biasa saja dan hampir tidak berguna sama sekali seperti para dukun dan mantan nara pidana, saya rasa anda semua tahu siapa saja orangnya tanpa perlu saya sebutkan secara jelas.
Namun, Anda semua pasti tahu berita yang belum lama ini viral hingga sangat menarik perhatian kalangan manapun. “Begitu syulit, lupakan Rehan, apalagi Rehan baik,” salah satu warganet yang melantunkan penggalan lagu lama yang diparafrasa, Cukup Dikenang Saja dari The Junas feat Yasmin Napper ini sampai diundang di media sana-sini, hingga muncul di berbagai halaman pencaharian sosial media tanpa peduli melihat nilai manfaatnya bagi khalayak umum. Mengapa semua orang sangat fokus pada berita semacam itu? Demi rating? Entah itu untuk konten atau acara televisi, yang pasti tujuannya kembali lagi pada istilah Gold and Fame, yakni uang dan ketenaran. Terus seperti itu hingga berita lain yang lebih berkualitas tenggelam di antara kesimpangsiuran. Memang tidak sepenuhnya buruk. Berkat keviralan tersebut, lagu dan penyanyi aslinya bisa kembali eksis di dunia musik walau tidak harus tampil. Tetapi, tetap saja yang kita sayangkan adalah ketidakseimbangan apresiasinya. Akankah anak bangsa di negeri ini harus memenuhi syarat viral versi masyarakat terlebih dahulu?
Di negara ini, orang berbakat hanya akan dipandang sebagai saingan, bahkan sampai didiskriminasi. Wah wah parah ya...bukannya diberi fasilitas, malah diabaikan. Tapi kalau sudah viral dan mendapat penghargaan dari luar (apalagi ditambah uang) malah main klaim "anak bangsa". Yang lebih parahnya lagi, oknum-oknum yang mengakui hal tersebut kebanyakan berasal dari kalangan tua. Duh Pak Pak!
Biasanya yang berbakat seperti ini bakalan angkat kaki dari tanah airnya sendiri. Entah karena memang ingin menuntut ilmu di negeri Cina, atau mungkin sudah lelah dengan keadaan di sini? Hanya mereka dan Tuhanlah yang tahu. Mungkin juga Anda. Contoh lainnya yakni penyanyi cilik yang diusulkan sebagai Duta Kekayaan Intelektual. Ketika berita anak tersebut memuncak ke permukaan, pemerintah dengan heboh menyambutnya dengan penghargaan yang luar biasa. Memuji si anak dan melupakan begitu banyaknya pemuda-pemudi luar biasa di negeri ini, menggali kisah si anak dengan mengabaikan kisah perjuangan “anak bangsa” lainnya. Tidak ada yang salah pada anak tersebut, tetapi haruskah pemerintah sangat memberikan perhatian penuh kepada satu orang? Sedangkan anak-anak lain di negeri ini semakin tenggelam tanpa dilirik sekali pun.
Banyak juga yang menyayangkan anak berprestasi pemenang Olimpiade Matematika & Sains, mereka juga seharusnya pantas mendapatkan penghargaan yang berarti dari pemerintah. Dapat dilihat jelas kesimpulan soal tanggapan atas kasus-kasus di atas merupakan cuitan kritikan mengenai tindakan pemerintah, bukan iri kepada si anak.
Jika melirik kasus yang lain, masih banyak lagi tindakan-tindakan pemerintah yang terasa janggal dan cukup membuat hati geram. Sepertinya banyak yang sudah melupakan arti dari apresiasi itu sebenarnya dan penyimpangan terhadap nilai “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Penulis :
Avita Safitri (D1C021006)
Mahasiswi S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu