Gerakan Sosial di Era Digital: X sebagai Ruang Baru Perlawanan
Oleh : Alda Siti Arifah, Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas
Demo besar yang terjadi pada September 2025 lalu seakan menjadi pengingat bahwa suara rakyat belum sepenuhnya padam. Di berbagai kota besar, terutama di Jakarta, Padang, Bandung, dan Yogyakarta, mahasiswa dan masyarakat kembali turun ke jalan menyuarakan keresahan mereka terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pro-rakyat. Tapi ada satu hal yang membedakan aksi kali ini dengan demonstrasi di masa-masa sebelumnya yaitu pergerakannya tidak lagi hanya dimulai dari kampus atau ruang organisasi, melainkan dari layer ponsel, dari platform X.
X, yang dulunya dikenal sebagai Twitter, kini bukan sekedar tempat orang berdebat atau berbagi lelucon receh. Ia sudah menjelma menjadi ruang politik digital tempat berbagai isu publik diolah, diperbincangkan, dan disebarkan dengan kecepatan luar biasa. Tagar seperti #SuaraMahasiswaHidup, #TolakKenaikanPPN, dan #ReformasiJilidDua sempat mendominasi trending topik nasional selama berhari-hari. Melalui utas, video singkat, hingga postingan berantai, opini publik dibentuk, solidaritas dibangun, dan gerakan disatukan.
Fenomena ini memperlihatkan betapa kuatnya daya pengaruh media sosial dalam membentuk kesadaran kolektif. Jika dulu mobilisasi massa memerlukan rapat panjang dan penyebaran pamflet, kini cukup dengan satu cuitan yang relevan dan emosional, ribuan orang bisa tergerak dalam hitungan jam. X menjadi semacam ruang publik modern, tempat suara yang biasanya tenggelam bisa bergema dan menemukan pendengarnya.
Namun, dibalik euforia digital itu, muncul pula pertanyaan penting yaitu apakah gerakan sosial yang dibangun di dunia maya memiliki kekuatan yang sama dengan gerakan yang tumbuh di lapangan ? Banyak pengamat menilai, sebagian pengguna X memang ikut bersuara karena semangat solidaritas, tapi tidak semuanya memahami substansi isu yang diangkat. Fenomena “ikut-ikutan trending” atau click activism masih sering terjadi, di mana seseorang merasa sudah berkontribusi hanya dengan me-retweet atau menulis tagar.
Meski begitu, tidak bisa
disangkal bahwa tanpa X, banyak orang mungkin tidak akan tahu apa yang sedang diperjuangkan. Di Tengah banjir informasi dan kesibukan hidup, media sosial seperti X membantu menyebarkan kesadaran politik secara cepat dan luas. Ia menjadi alat pendidikan politik yang efektif, terutama bagi generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital ketimbang rapat senat mahasiswa.
Gerakan sosial di X juga menghadirkan bentuk baru dari solidaritas yaitu spontan, cair tapi berdaya. Orang-orang yang tidak saling kenal bisa saling mendukung, saling memperkuat narasi, dan membangun opini publik yang menekan pemerintah untuk bertindak. Inilah kekuatan baru demokrasi digital, suara rakyat tidak lagi bergantung pada ruang fisik, tapi bisa bergaung di jagat maya dan menembus batas-batas geografis.
Namun, tantangannya tetap besar. Di Tengah derasnya arus informasi, hoaks dan disinformasi juga mudah menyusup, memperkeruh arah Gerakan. Tidak jarang, isu yang seharusnya mendorong perubahan justru berakhir menjadi perdebatan kosong di kolom komentar. Di sinilah pentingnya literasi digital dan kedewasaan politik. Gerakan sosial melalui X hanya akan benar-benar kuat jika penggunanya mampu memilah mana informasi yang valid, mana yang sekadar propaganda.
Demo September 2025 menjadi bukti bahwa kekuatan masyarakat tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti bentuk. Jika dulu semangat perlawanan diwujudkan lewat spanduk dan megafon, kini bisa melalui thread panjang, infografik, atau video singkat yang viral. Dunia maya memang tidak bisa sepenuhnya menggantikan aksi nyata di jalan, tapi ia bisa menjadi bahan bakar yang menyalakan api kesadaran kolektif.
Pada akhirnya, X hanyalah alat, yang menentukan maknanya tetap manusia di balik layar. Ketika masyarakat mampu menggunakan platform ini dengan bijak dan kritis, media sosial bukan lagi sekadar tempat berdebat, tapi bisa menjadi ruang perjuangan yang sesungguhnya. Dan mungkin, Sejarah akan mencatat bahwa di era digital ini, perubahan besar justru dimulai dari satu tombol kecil bertuliskan “Post” .