Bahasa Tapan: Suara di Ujung Peta Sumatera Barat
Oleh: Mutia Fadhilah
Di ujung selatan Sumatra Barat, di antara rimbunnya pepohonan dan semilir angin pesisir Pesisir Selatan, terdapat sebuah kampung bernama Binjai Tapan. Di sanalah, di perbatasan antara adat Minangkabau dan pengaruh budaya Bengkulu, hidup sebuah bahasa yang unik dan menawan, Bahasa Tapan. Bahasa ini terdengar berbeda, aneh bahkan, bagi telinga orang dari Padang, Bukittinggi, atau Solok. Tapi justru di situlah pesonanya Bahasa Tapan adalah bukti bahwa batas geografis sering melahirkan keindahan linguistik yang tak terduga.
Di Antara Bunyi dan Identitas
Bahasa Tapan tidak sekadar alat komunikasi, tetapi juga cara masyarakat Tapan mengenali dirinya. Ciri khasnya terletak pada perubahan bunyi yang halus tapi bermakna.
Kata yang berakhiran huruf “i” misalnya, sering bergeser menjadi “ing”. Nama “Rozi” berubah menjadi “Rozing”, seolah ada hembusan lembut yang menahan kata agar tidak lekas berakhir.
Begitu pula huruf “r” yang bertransformasi menjadi bunyi “gh”. “Terong” menjadi “Teghuang”. Sekilas terdengar asing, tapi bagi masyarakat Tapan, itu bukan penyimpangan, melainkan tanda keintiman, cara mereka menandai “kami bukan orang luar”.Yang menarik, perubahan bunyi ini tidak selalu mutlak. Ia lentur, seperti masyarakatnya yang tahu kapan harus santai dan kapan harus sopan. Dalam percakapan sehari-hari, bunyi “i” bisa saja menjadi “ing”. Tapi saat berbicara dengan orang tua atau tamu dari luar, mereka dengan mudah menyesuaikan diri ke bentuk yang lebih baku. Inilah keanggunan lisan yang lahir dari kebijaksanaan sosial.
Antara Dialek dan Batas Budaya
Secara geografis, Tapan berada di antara dua dunia, Minangkabau dan Bengkulu. Secara budaya, mereka menyerap keduanya tanpa kehilangan jati diri. Bahasa Tapan menjadi saksi dari proses panjang percampuran itu, seperti sungai yang membawa sedimen dari dua arah lalu menciptakan warna airnya sendiri.
Bunyi “gh” yang khas, misalnya, diyakini muncul dari interaksi historis dengan masyarakat di pesisir selatan yang memiliki pengaruh fonetik Melayu. Tapi masyarakat Tapan tidak menirunya bulat-bulat. Mereka menyerap, menyesuaikan, lalu melahirkan sesuatu yang baru.Bahasa ini pun terus hidup dalam percakapan harian, di warung kopi, di ladang, dan di surau. Ia tumbuh dari tanah yang sama, dari humor yang sama, dari rasa kebersamaan yang tidak bisa diterjemahkan begitu saja ke bahasa lain.
Bahasa Sebagai Akar di Tengah Arus
Bagi masyarakat Tapan, berbicara dalam bahasa mereka sendiri bukan sekadar kebiasaan, melainkan pernyataan halus tentang siapa mereka di dunia yang terus berubah.
Ketika generasi muda di kota besar mulai terbiasa dengan campuran Indonesia–Inggris, di Binjai Tapan, anak-anak masih menyapa dengan “apo kaba?” dan tertawa saat mendengar teman berkata “iyu”, bentuk lokal dari “iya”.
Bahasa Tapan menjadi pagar tak terlihat yang melindungi identitas dari gelombang seragam globalisasi.Bahasa, kata antropolog Clifford Geertz, adalah “cara masyarakat menulis dunianya sendiri.” Jika begitu, maka Bahasa Tapan adalah naskah yang ditulis di ujung Sumatra Barat, sederhana, tapi penuh rasa, tentang masyarakat yang tidak mau kehilangan suaranya meski dunia di luar terus berganti nada.
Menjaga yang Dianggap “Kecil”
Ironisnya, bahasa seperti Tapan justru sering luput dari perhatian. Ia tidak diajarkan di sekolah, tidak masuk kurikulum, dan jarang diteliti. Padahal, di balik setiap perbedaan bunyi itu, ada sejarah sosial dan perasaan yang terjaga selama ratusan tahun.
Jika suatu hari Bahasa Tapan berhenti diucapkan, maka yang hilang bukan sekadar bentuk kata,tapi juga cara berpikir, cara merasa, dan cara beridentitas.Oleh karena itu, pelestarian bahasa daerah seperti Bahasa Tapan tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah. Ia harus lahir dari kesadaran masyarakatnya sendiri, dari orang tua yang tetap menuturkannya pada anak-anak, dari generasi muda yang bangga menggunakannya di media sosial, hingga peneliti yang mau menuliskannya sebagai bagian dari peta kebudayaan Sumatra Barat.
Bahasa Tapan mungkin terdengar asing bagi banyak orang Minang, tapi di situlah justru kekayaannya. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan Minangkabau tidak pernah seragam, ia beragam, lentur, dan hidup.
Dan selama masih ada seseorang di Binjai Tapan yang berkata “iyu” dengan bangga, maka Sumatra Barat tidak hanya punya satu suara, tapi orkestra kecil dari banyak nada, salah satunya berasal dari ujung selatan yang menolak diam.