Perbandingan Kisah Malin Kundang dan Si Tanggang, Legenda Anak Durhaka dari Nusantara dan Malaysia
Cerita rakyat merupakan salah satu tradisi sastra lisan dalam dunia kesusastraan Indonesia. Kelahiran suatu karya sastra tidak dapat dipisahkan dari keberadaan karya-karya sastra yang mendahuluinya, yang pernah diserap oleh sastrawan. Pada mulanya, dalam menciptakan karyanya seorang sastrawan tersebut melihat, meresapi, dan menyerap teks-teks lain yang menarik perhatiannya baik secara sadar atau tidak. Istilah sastra bandingan diartikan sebagai upaya melacak kebenaran sastra dengan cara menyejajarkan dua karya atau lebih yang memiki kemiripan (Endraswara, 2011: 5). Sastra bandingan, dalam penelitian umum serta dalam kaitannya dengan sejarah maupun bidang ilmu lain merupakan bagian dari sastra. Di dalamnya terdapat upaya bagaimana menghubungkan sastra yang satu dengan yang lain, bagaimana pengaruh antar keduanya, serta apa yang dapat diambil dan apa yang diberikannya.
Sumatera barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki banyak cerita yang melegenda, salah satunya yakni cerita Malin Kundang. Cerita Malin Kundang sampai sekarang masih terkenal di ranah Minang dan di seluruh penjuru Nusantara. Karena Cerita Malin Kundang dahulu merupakan cerita lisan yang sampai sekarang belum tau siapa yang mengarangnya, dan sekarang banyak sekali penulis yang menulis kembali cerita Malin Kundang salah satunya yakni Tira Ikranegara yang diterbitkan oleh Sandro Jaya Jakarta.
Cerita Malin Kundang merupakan cerita yang sangat terkenal dan sangat melegenda di Indonesia bahkan cerita ini banyak di adopsi oleh para sutradara untuk di film kan. Cerita Malin Kundang sangat melekat bagi masyarakat Sumatera Barat. Cerita ini bercerita tentang Malin Kundang yang berasal dari keluarga miskin. Dia hidup bersama ibunya, sedang ayahnya sudah lama pergi merantau namun tak pulang. Malin kundang tumbuh menjadi dewasa karena keterbatasan ekonomi. Hingga suatu hari dia bertemu dengan seorang Nahkoda kapal. Dia ingin merantau untuk merubah nasibnya. Dia pun minta ijin pada ibundanya. Meski dengan berat hati ibunda melepas kepergiaan malin Kundang. Tahun berlalu Malin Kundang bekerja di tanah rantauan. Di tanah rantau Malin Kundang bekerja sangat giat, dengan seketika dia menjadi saudagaar kaya. Ia kemudian menikahi dengan seorang putri saudagar yang kaya. Saudagar itu memiliki banyak kapal-kapal besar untuk urusan perdagangannya. Malin Kundang bersama istrinya yang cantik jelita kemudian sering bepergian dalam urusan perniagaan. Di kampung halamannya, berita tentang keberhasilan Malin Kundang telah sering didengar oleh ibunya yang kini telah menjadi tua dan renta. Perempuan tua itu sangat merindukan anaknya. Ia yakin suatu saat anaknya yang gagah dan kaya itu akan menjemputnya. Setiap sore ia menantikan Malin Kundang di dermaga. Ia berharap Malin Kundang akan menjemputnya. Singkat cerita Malin Kundang pun pulang ke kampungnya dengan gagah perkasa ditemani istri yang cantik jelita dan anak buah kapal yang begitu banyak. Ibu Malin Kundang langsung memeluk anaknya ketika saudagar itu turun dari kapal bersama istrinya. Ia mengucapkan kegembiraannya bahwa Malin Kundang anaknya telah menjadi orang yang berhasil dalam perantauan. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan ibunya. Malin Kundang merasa malu memiliki ibu yang tua renta dengan baju yang buruk compang-camping. Di hadapan istrinya, ia mengatakan bahwa ia bukanlah anak dari perempuan tua itu. Sungguh amat terluka hati ibu Malin Kundang. Anak satu-satunya yang sangat disayanginya itu telah menyakitinya. Ia berusaha meyakinkan Malin Kundang bahwa ia memang ibunya. Tetapi Malin Kundang yang hanya karena perasaan malu mempunyai ibu yang buruk rupa terus berusaha menyanggah. Ia bahkan menjadi marah. Malin Kundang membentak dan mendorong ibunya hingga terjatuh ke tanah. Malin Kundang pun kembali meninggalkan ibunya yang masih tersungkur di tanah. Akhirnya wanita tua itu menyerah lalu berdoa kepada Tuhan. Dengan seketika Malin Kundang berubah menjadi batu.
Tidak mau kalah dengan cerita rakyat Malin Kundang dari Nusantara, Sumatera barat, Negara Jiran, Malaysia juga memiliki cerita yang melegenda yakni Si Tanggang. Cerita rakyat ini menceritakan tentang Si Tanggang yang ada di Malaysia. Si Tanggang merupakan anak dari Si Talang dan Si Deruma. Kehidupan mereka sekeluarga amatlah miskin. Si Tanggang selalu berkhayal untuk menjadi kaya dan terkenal. Pada suatu hari, Si Tanggang terlihat sebuah kapal besar berlabuh di muara sungai yang dekat dengan rumahnya. Si Tanggang pergi bertemu dengan Nakhoda kapal itu dan meminta untuk dijadikan krunya. Nakhoda kapal itu langsung setuju karena telah melihat efisiensi Si Tanggang bersampan dan bekerja. Meskipun Si Talang dan Si Deruma sangat keberatan untuk melepaskan Si Tanggang berlayar sesuai kapal Nakhoda itu, mereka terpaksa mengalah. Si Tanggang berjanji akan kembali ke desa setelah menjadi kaya. Si Tanggang melakukan apa saja pekerjaan yang diperintahkan oleh Nakhoda. Nakhoda sangat suka dengannya karena dia rajin bekerja. Lalu, Si Tanggang pun diambil sebagai anak angkat. Bila Nakhoda menjadi uzur, maka Si Tanggang ditunjuk menjadi nakhoda baru. Si Tanggang efisien dan pandai berbisnis. Namanya menjadi terkenal. Jadi dia diundang oleh Sultan ke istana. Tidak lama kemudian, Si Tanggang pun menikah dengan putri Sultan. Si Tanggang membawa istrinya berlayar ke banyak tempat di seluruh negeri. Suatu hari kapal Si Tanggang berlabuh di muara sungai desa asal-usulnya. Orang kampung mengetahui nakhoda kapal itu Si Tanggang. Mereka pun mengatakan kepada orang tuanya. Orang tua si Tanggang sangatlah senang. Si Talang dan Si Deruma ayah dan ibu Tanggang pun pergi mengayuh sampan menuju ke kapal Nakhoda Tanggang. Si Deruma membawa makanan favorit Si Tanggang, yaitu pisang salai. Ketika tiba di kapal, seorang anak buah kapal melarang mereka naik. Seketika kemudian, Si Tanggang muncul dengan istrinya. Si tanggang bertanya kepada anak buahnya tentang identitas ke dua orangtua itu. Anak buah itu mengatakan kalau kedua orangtua tersebut merupakan orangtua dari si Tanggang sendiri. Mendengar pernyataan tersebut, Si Tanggang sangatlah malu. Dia mengusir kedua orangtua itu lalu berangkatlah mereka. Sesampai di tengah laut datanglah ombak besar hingga membuat kapal Si Tanggang dan seluruh isinya berubah menjadi batu.
Si Tanggang efisien dan pandai berbisnis. Namanya menjadi terkenal. Jadi dia diundang oleh Sultan ke istana. Tidak lama kemudian, Si Tanggang pun menikah dengan putri Sultan. Si Tanggang membawa istrinya berlayar ke banyak tempat di seluruh negeri. Suatu hari kapal Si Tanggang berlabuh di muara sungai desa asal-usulnya. Orang kampung mengetahui nakhoda kapal itu Si Tanggang. Mereka pun mengatakan kepada orang tuanya. Orang tua si Tanggang sangatlah senang. Si Talang dan Si Deruma ayah dan ibu Tanggang pun pergi mengayuh sampan menuju ke kapal Nakhoda Tanggang. Si Deruma membawa makanan favorit Si Tanggang, yaitu pisang salai. Ketika tiba di kapal, seorang anak buah kapal melarang mereka naik. Seketika kemudian, Si Tanggang muncul dengan istrinya. Si tanggang bertanya kepada anak buahnya tentang identitas ke dua orangtua itu. Anak buah itu mengatakan kalau kedua orangtua tersebut merupakan orangtua dari si Tanggang sendiri. Mendengar pernyataan tersebut, Si Tanggang sangatlah malu. Dia mengusir kedua orangtua itu lalu berangkatlah mereka. Sesampai di tengah laut datanglah ombak besar hingga membuat kapal Si Tanggang dan seluruh isinya berubah menjadi batu.
Disusun oleh: Pandu Winata, Mahasiswa Universitas Andalas Jurusan Sastra Minangkabau