Netizen: “Harus Ku Apakan Kau Pejabat Negara?”
“Pantas rakyak kecewa … perilakunya cuma pamer kuasa, pamer kekayaan, hedonis.” ungkap kekecewaan Presiden RI Joko Widodo terhadap kelakuan pejabat negara yang ketahuan korupsi. Sebagai mahasiswa sekaligus rakyat, saya turut berduka. Tapi, saya seperti mendapat kekuasaan ketika mengetahui KPK terang-terangan meminta bantuan saya untuk ikut bertindak dalam penyelidikan kasus korupsi. Kok bisa? Bisa. Karena saya netizen.
Saya cuma bisa menebak mungkin KPK jengkel dengan tingkah netizen yang hanya koar-koar di media sosial bahkan tidak jarang pula mengusik KPK. Seperti bilang “Jangan koar-koar doang, bantuin kek!” Yahhh gimana pun juga KPK cuma manusia biasa, kalo kesulitan ya minta bantuan.
Terdengar lucu, kerjaan KPK yang merupakan lembaga tinggi negara ternyata butuh bantuan netizen yang terkenal absurd ini? Sebagai netizen yang baik hati, saya masih bisa berpikir positif bahwa KPK mungkin saja sudah punya daftar nama yang dicurigai melakukan korupsi. Tapi, haruskah menunggu pejabatnya viral karena netizen dulu, baru KPK turun tangan utuk menyelidiki? Kalau tetap tersembunyi alias netizennya ogah-ogahan ngeviral-in gimana, Pak? Artinya nasib pejabat memang di bawah kekuasaan netizen, walaupun sebenarnya nama baik netizen juga dipertaruhkan. “Harus ku apakan kau pejabat negara?” kira-kira begitulah pertanyaan yang saya ajukan kepada si pejabat jika ketahuan korupsi.
Saya memang terganggu dengan tingkah beberapa pejabat negara, tak terkecuali keluarganya. Bukan berarti iri. Ngakunya sahabat rakyat, tapi attitude-nya tidak dijaga, tidak mencerminkan sahabat rakyat itu sendiri. Jauh dari itu. Lihat saja sosial medianya. Sudah tampak jelas. Entah isi postingannya mobil mewah, pesawat mewah, bahkan ketahuan pamer rumah baru. Jika saya tahu mereka adalah artis, youtuber atau sejenisnya, saya nggak akan curiga. Tapi, posisi pejabat negara bukan posisi yang sesimpel itu loh, Pak, Bu. Dengan begini saya akui, KPK meminta bantuan pada orang yang tepat. Yapp! Kepada Netizen Indonesia.
The Power Of Netizen +62, Sebutan terkenal yang berhasil tersemat untuk netizen Indonesia. Pasukan tangguh pembongkar rahasia negara, apalagi rahasia tikus berdasi, ups! Sebelum KPK meminta bantuan pun, beberapa pejabat sudah kehilangan gelar lantaran ketahuan oleh netizen karena di akun media sosialnya pamer harta gono gini, eh.. maksudnya pamer pesawat dan rumah mewah. Bergerak kami lakukan demo, kalo diam kami pantau akun sosial media pribadi anda.
No sembunyi-sembunyi, aktivitas si tikus berdasi selalu terpantau cctv netizen. Kekuatan netizen Indonesia bak sama terkenalnya dengan Donal Trump, Vladimir Putin, atau bahkan setara dengan tenarnya Ratu Elizabeth? Maksudnya kekuatan netizen Indonesia sampai terkenal di dunia dan sudah tidak diragukan lagi. Ngeri ngeri. Kalau tercium tanda-tanda kekayaan pejabat yang tak wajar oleh netizen, wahh bahaya!
Bukan sang pejabat saja yang kami selidiki, netizen tidak mungkin bodoh, akun sosial media anaknya, istrinya, cucunya, saudaranya, dan deretan keluarga sedarahnya kami curigai! Karena tidak menutup kemungkinan ladang uang yang mereka pamerkan adalah uang negara alias uang rakyat. Walaupun suuzan di mata agama, tapi yang kami lakukan bernilai pahala kalo ternyata korupsi kan? Aamiin hehe.
Tapi, pejabat negara memang tidak bisa dianggap remeh. Alasan KPK meminta bantuan netizen mungkin bukan karena KPK lemah, tapi pejabatnya yang juga kuat alias ada yang melindungi. Sebutan negara yang dijajah oleh negeri sendiri memang benar adanya, semenjak perlahan-lahan saya kenal dengan dunia politik, saya jadi tahu ternyata beginilah kondisi SDM negara Indonesia, ada saja pribumi yang menggerogoti harta negerinya sendiri.
Jadi, yang bermasalah di sini sebenarnya bukan negara, bahkan saya akui presiden kita sangat memegang teguh amanah yang ia jalani. Celakanya, antek-antek-nyalah yang tidak tahu malu bak menganggap uang rakyat adalah harta gono gini. Hukuman penjara kelas hotel khusus untuk koruptor kami harap itu dihapus :) buat saja penjara berpenampilan rumah hantu dan sewa hantu sekalian!
Penulis : Avita Safitri
Mahasiswi Jurnalistik
Universitas Bengkulu