Gaya Berpakian Masa Kini: Antara Kebebasan Ekspresi dan Tuntutan Tren
Oleh : Repaldi Harahap Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu
Di era digital yang serba cepat dan mudah, gaya berpakaian bukan lagi menjadi suatu masalah. Karena kita dapat dengan mudah mencari suatu pakaian yang di inginkan sebagai bentuk ekpresi diri. Melalui pilihan busana seseorang dapat menunjukan kepribadian, keyakinan, dan pernyataan sosial. Tetapi dibalik semua kebebasan ini ada arus tren yang begitu cepat sehingga sering kali membuat tekanan secara sosial maupun psikologis.
Media sosial menjadi salah satu faktor utama yang membuat gaya berpakaian bergulir cepat. Platform seperti Intagram, Tiktok, dan Pinterest menjadi jalur bagi tren-tren baru yang menyebar dengan cepat dalam hitungan jam bangkan menit. Di satu sisi lain, ini membuka ruang kreativitas bagi produser pakaian agar dapat lebih mengembangkan referensinya dalam membuat pakaian. Kemajuan teknologi membuat tren fashion tak lagi terbatas, sekarang siapa saja bisa menjadi inspirasi dalam berpakaian.
Namun, di sisi lain dominasi tren ini sering membuat individu harus mengikuti apa yang menjadikan standar tak tertulis, seperti tentang apa yang layak diunggah, dianggap keren, atau “intagramable”. Bagi mereka yang tidak mampu mengikuti arus, baik karena finansial maupun beda dalam pemilihan gaya sering kali merasa di pinggirkan. Tekanan seperti ini dapat membuat perasaan rendah diri bahkan dapat membuat kehilangan jati diri.
Gaya berpakian masa kini yang sangat luas dan bebas harusnya dapat menjadikan banyak peluang. Tetapi dengan adanya kebebasan tersebut jangan sampai jadi terbenglenggu oleh standar-standar semu yang dibentuk oleh dunia maya. Sudah saatnya sekarang fashion menjadi alat untuk mengekspersikan diri, alat identitas diri bukan ajang untuk mebuat suatu kelas tertentu bahkan menjadikan tekanan.