Menjaga Tradisi, Mengantar Doa : Malamang di Nagari Aie Tajun
OLEH : SASMITA ZULIANTI
SASTRA MINANGKABAU
Abstrak
Nagari Aie Tajun, yang terletak di Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, memiliki tradisi budaya yang masih kental, salah satunya adalah malamang. Tradisi ini dilakukan sebulan sebelum Ramadan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur yang telah meninggal. Proses pembuatan lamang melibatkan berbagai tahapan dan memiliki nilai kebersamaan serta spiritual yang mendalam. Masyarakat meyakini bahwa membuat lamang pada bulan lamang merupakan bentuk sedekah bagi arwah keluarga yang telah tiada. Tradisi ini tetap dilestarikan hingga kini dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Aie Tajun. Artikel ini membahas makna serta kepercayaan masyarakat terkait tradisi malamang dan dampaknya bagi kehidupan mereka.
Kata Kunci: Malamang, Tradisi, Budaya, Nagari Aie Tajun, Ramadan, Kearifan Lokal
Abstract
Nagari Aie Tajun, located in Lubuk Alung District, Padang Pariaman Regency, upholds strong cultural traditions, one of which is malamang. This tradition is performed a month before Ramadan as a way to honor deceased ancestors. The process of making lamang involves several stages and reflects deep values of togetherness and spirituality. The community believes that making lamang during bulan lamang serves as an act of charity for the spirits of departed family members. This tradition continues to be preserved and remains an essential part of the social and spiritual life of Aie Tajun society. This article explores the meaning and beliefs surrounding the malamang tradition and its impact on the community’s way of life.
Keywords: Malamang, Tradition, Culture, Nagari Aie Tajun, Ramadan, Local Wisdom
Nagari Aie Tajun merupakan nagari yang berada di kecamatan Lubuk Alung kabupaten Padang Pariaman provinsi Sumatra Barat. Kabupaten padang pariaman merupakan salah satu nagari yang masih kental akan budayanya , dan nagari aie tajun merupakan nagari yang sangat menghargai budaya leluhurnya.
Tradisi malamang adalah sebuah tradisi rutin yang dan selalu dilakukan oleh masyarakat aie tajun dalam sebulan memasuki bulan Ramadan. Malamang adalah sebuah kegiatan dimana pembuatan lemang bisa disebut olahan beras sipulu dengan santan yang dimasukan kedalam buluh atau yang biasa disebut bambu yang nantinya akan dilapisi dulu dengan daun pisang yang masih muda dan beras sipulutnya dimasukan ke dalam buluh lalu di isikan santan.Pada proses pembuatan lamang imi tentunya tidak bisa dilakukan dengan seorang diri, karna banyak proses yang akan dilewati dalam memasak lamang ini mulai dari pemilihan buluhnya, pemotongan buluh, perendaman sipulut hingga tahap perapian atau pemasakan dari lemang tersebut.
Pada proses pemasakan lemang ini ada proses perapian dimana tidak menggunakan cara yang asal-asalan jika caranya asal-asalan maka akan menggangu cita rasa dari lamang tersebut. Pada proses ini peran laki-laki sangat dibutuhkan karna bagi seorang perempuan itu sangat berat dan panas jika harus duduk dan memamtau api yang digunakan dalam memasak lamang ini. Tungku yang digunakan dalam pemasakan lamang sangat besar . setelah saya ikut serta dalam proses pembuatan lamang di bagisn tungkunya ada dua buah tiang peyangga lemangnya dan di letakan sebuah besi untuk menyenderkan lamang tersebut .
Dari proses pembuatan lemang ini banyak makna yang dapat kita pelajari disetiap prosesnya yang sangan teliti dan penuh kesabaran. Oleh karena itu lamang merupakan salah satu makanan yang wajib ada disetiap prosesi adat di nagari aie tajun lubuk alung ini. Seperti tradisi mengaji kematian seorang yang meninggal misalnya pada saat manigo hari atau 3 hari setelah dikuburkan hingga ke maratuih hari atau 100 hari setelah dikuburkan. Tapi pada artikel ini kita lebih membahas pada persepsi masyarakat nagari aie tajun yaitu membuat lamang sebelum bulan Ramadan dan masyarakat menyebutnya bulan lamang.
Namun hal unik yang ingin dibahas adalah persepsi masyarakat yang mengatakan jika bulan lamang kita harus membuat lamang karana untuk menghormati sanak keluarga kita yang telah meninggal. Bagaimana bisa dikatakan seperti itu sebab jika kita membuat lamang pada bulan lamang makan sama saja kita memberi makan untuk orang yang sudah meninggal tersebut, jika tidak orang yang meninggal tersebut akan merasa kelaparan dan iri dengan yang lain sebab ada yang mengasih lamang mereka.
Mungkin sebagian dari kita merasa aneh dengan persepsi ini tapi bagaimanapun malamang ini merupakan tradisi yang sudah masyarakat aie tajun lakukan dari dahulunya. Oleh karena itu saya sempat melakukan wawancara kepada salah satu masyarakat aie tajun yaitu ibu syamasiar umur 75 tahun dan termaksud orang yang dituakan disana. Saya bertanya “ bagaiman jika tradisi ini tidak dilakukan oleh salah satu keluarga untuk membuat lamang apakah ada dampaknya ? “ dan ibu syamsiar menjawab “ untuk dampaknya tergantung pada masing- masing keluarga tapi ada salah seorang warga yang tidak membuat lamang dan memberikannya pada orang tua makan keluarga warga tersebut yang meninggal mendatanginya didalam mimpi untuk meminta makan atau sedekahnya.” Jadi sesuai penuturan dari ibu syamsiar ada masyarakat yang membutikan kejadian tersebut.
Di nagari aie tajun bulan lamang merupakan agenda wajib yang harus dilakukan sebab bulan lamang merupan bulan untuk masyarakat untuk memperingati keluarga sanak saudara yang meninggal dari usia muda hingga tua maka dari itu lamang yang dibuat tersebut akan disedekahkan oleh pihak keluarga kepada orang yang muds hingga tua. Kepercayaan bahwa membuat lamang dapat memberi "makan" arwah leluhur mengajarkan kita bahwa budaya memiliki caranya sendiri dalam menjaga hubungan antara generasi. Ini bukan sekadar ritual, tetapi juga ekspresi rasa hormat, kepedulian, dan tanggung jawab sosial.Untuk anak-anak masyarakat di nagari aie tajun juga ada tradisi yang namanya bulan sumabareh yang khusus untuk bulan kanak-kanak yang telah meninggal.
Maka daripada itu dapat kita simpulkan bahwa setiap daerah mempunyai ciri khas budaya masing-masing, Tidak hanya sekedar budaya tetapi ada makna tersirat dari sebuah budaya tersebut. Termaksud juga tradisi malamang ini yang menyimpan banyak makna dan arti kehidupan, ada juga pesan yang disampaikan melalui tradisi ini akan mengingatkan kita pada keluarga sanak saudara kita yang telah mendahului kita dan juga menambah pahala melalui sedekah yang kita berikan dan menjadi penerang , penyejuk bagi keluarga sanak saudara di alam kuburnya. Tradisi malamang bukan sekadar proses memasak lamang, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna. Setiap buluh yang diisi beras ketan dan santan bukan hanya makanan fisik, tetapi simbol dari nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, dan hubungan spiritual antara yang hidup dan yang telah tiada.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak tradisi mulai terlupakan, tetapi malamang tetap bertahan sebagai pengingat bahwa warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, melainkan untuk terus dihidupkan. Jika budaya ini hilang, kita bukan hanya kehilangan sebuah tradisi, tetapi juga kehilangan sebagian dari jati diri kita sendiri. Maka, tugas kita bukan sekadar menjadi saksi dari tradisi ini, tetapi juga menjadi penjaga yang memastikan bahwa api malamang terus menyala di hati setiap generasi. Oleh karna itu kita sebagai generasi muda janganlah kita membiarkan warisan tradisi ini hilang lenyap bak ditelan bumi,apalagi pada saat orang tetua- tetua yang mengajarkan kita sudah mendahului kita makan tugas kita untuk melestarikan budaya warisan lelulur dinagari kita sendiri, kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengabadikan tradisi ini.