Nyanyian Sunyi dalam Bualan: Kritik Sastra atas Lagu "Laloklah Nak" Vanny Vabiola
Oleh : Hilmi Rafika, Mahasiswi Universitas Andalas
Lagu “Laloklah Nak” yang dipopulerkan oleh Vanny Vabiola merupakan salah satu karya musikal yang menyentuh sisi paling intim dalam relasi manusia, yaitu hubungan antara orang tua dan anak. Dalam konteks kritik sastra, lagu ini dapat dipahami sebagai bentuk puisi liris yang hidup dalam medium bunyi, karena liriknya bekerja tidak hanya sebagai teks, tetapi juga sebagai ungkapan emosional yang sarat makna. Tema utama lagu ini berkisar pada kasih sayang, doa, dan kecemasan seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya untuk tidur, namun pada saat yang sama menyimpan beban psikologis yang tidak terungkap secara langsung. Lagu ini menghadirkan suasana sunyi yang justru menjadi ruang refleksi bagi pendengar untuk menyelami makna-makna tersembunyi di balik kesederhanaan tuturnya.
Dari sisi struktur bahasa, lirik “Laloklah Nak” tampak dibangun melalui repetisi yang konsisten, terutama pada kata-kata kunci seperti “lalok” dan “nak”. Repetisi ini dalam kajian stilistika berfungsi sebagai bentuk paralelisme yang memperkuat suasana menenangkan sekaligus menciptakan ritme emosional tertentu. Pengulangan tersebut bukan merupakan kelemahan, melainkan strategi estetik untuk membangun efek hipnotik seperti lagu nina bobo. Kata “lalok” di sini tidak hanya menunjuk pada aktivitas tidur secara fisik, tetapi berkembang sebagai simbol ketenangan, perlindungan, dan keinginan untuk menjauhkan sang anak dari kerasnya dunia. Dengan demikian, bahasa yang digunakan dalam lagu ini memperlihatkan kemampuan simbolik yang khas dalam karya sastra liris.
Jika ditinjau dari perspektif psikologi sastra, tokoh liris dalam lagu ini merepresentasikan sosok ibu yang berada dalam kondisi emosional yang kompleks. Ia berupaya menampilkan ketenangan melalui nada lembut dan kata-kata yang menenangkan, tetapi justru dari situ terasa adanya kecemasan dan luka batin yang tersembunyi. Lagu ini menampilkan paradoks yang menarik: semakin lembut nada yang dinyanyikan, semakin terasa berat beban emosional yang dipikul. Hal inilah yang membuat lagu tersebut begitu menyentuh, karena ia merepresentasikan pengalaman manusiawi yang umum, yaitu berusaha terlihat kuat demi orang yang dicintai meskipun di dalam diri sedang terjadi pergulatan batin.
Dalam perspektif sosiologi sastra, “Laloklah Nak” juga dapat dipahami sebagai representasi realitas sosial masyarakat yang tidak selalu stabil. Lagu ini seolah menjadi suara bagi banyak ibu yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tekanan hidup, dan ketidakpastian masa depan, tetapi tetap berusaha menciptakan rasa aman bagi anak-anak mereka. Liriknya tidak menyebutkan kondisi sosial secara eksplisit, namun justru melalui kesenyapan itulah realitas sosial hadir sebagai latar yang terasa. Ketidakhadiran narasi sosial yang eksplisit ini justru memperluas ruang tafsir, karena pendengar dapat menghubungkannya dengan pengalaman hidup masing-masing.
Dari sisi estetika musikal, versi yang dibawakan oleh Vanny Vabiola memberikan lapisan makna tambahan terhadap teks lirik. Warna suara yang lembut, tempo yang lambat, dan penghayatan yang kuat memperdalam kesan haru yang hadir. Dalam kerangka semiotika sastra, suara dan nada dapat dibaca sebagai tanda yang memperluas makna teks. Artinya, yang bekerja bukan hanya kata-kata, melainkan juga cara kata-kata itu dihidupkan melalui intonasi dan ekspresi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam lagu, teks sastra dan musik saling melengkapi untuk menghasilkan pengalaman estetik yang utuh.
Namun, sebagai karya sastra, lagu ini juga tidak lepas dari sisi kritis. Pola repetisi yang dominan berpotensi menimbulkan kesan monoton bagi sebagian pendengar, terutama bagi mereka yang mengharapkan perkembangan naratif yang lebih kompleks. Lagu ini cenderung statis dalam alur emosinya, bergerak di lingkaran kesedihan dan ketenangan tanpa banyak konflik eksplisit. Akan tetapi, justru di situlah letak pilihan estetikanya: lagu ini tidak bertujuan membangun dramatisasi yang tajam, melainkan menciptakan ruang kontemplasi yang tenang dan berulang, seperti ayunan yang bergerak perlahan tanpa henti.
Dari sudut pandang teori resepsi, kekuatan utama lagu ini terletak pada kemampuannya membangkitkan empati pendengar. Setiap orang memiliki pengalaman personal terkait figur ibu, masa kanak-kanak, atau momen-momen keheningan sebelum tidur. Lagu ini membuka ruang pertemuan antara pengalaman pribadi tersebut dengan teks lirik, sehingga tercipta hubungan emosional yang kuat. Pendengar tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut merasakan dan menghidupkan kembali memori-memori personal yang mungkin telah lama tersimpan dalam kesadaran mereka.
Sebagai kesimpulan, “Laloklah Nak” versi Vanny Vabiola merupakan karya sastra musikal yang memiliki kekuatan pada kesederhanaan dan kejujuran emosinya. Lagu ini berhasil mengubah aktivitas sehari-hari, yaitu menidurkan anak, menjadi pengalaman estetis yang sarat makna. Melalui bahasa yang sederhana, repetisi yang efektif, dan penghayatan musikal yang kuat, lagu ini menghadirkan potret kasih sayang orang tua yang penuh ketulusan sekaligus luka yang tersembunyi. Dalam konteks mata kuliah kritik sastra, lagu ini layak dianggap sebagai teks sastra populer yang memiliki nilai estetika dan nilai kemanusiaan yang tinggi, karena mampu menyuarakan pengalaman batin manusia secara halus namun mendalam.