Kritik Sastra terhadap Kaba "Nik Reno", Representasi Identitas Minangkabau Melalui Tuturan Lisan
Nama : Khairunnisa Nabila
Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas▪ Pendahuluan
Kaba merupakan salah satu tradisi sastra lisan Minangkabau yang memadukan cerita, petuah, sejarah, dan nilai budaya dalam bentuk tuturan. Kaba sering menjadi wadah pengetahuan kolektif sekaligus media pendidikan karakter bagi generasi muda. Kaba “Nik Reno” yang menghadirkan dialog antara seorang nenek (Nik Reno) dan kedua cucunya (Wulan dan Bram). Melalui percakapan akrab dan penuh tanya-jawab, kaba ini menggambarkan bagaimana identitas Minangkabau diturunkan secara lisan kepada generasi baru.
kaba “Nik Reno” dengan pendekatan kritik sastra intrinsik dan ekstrinsik, mencakup aspek tema, tokoh, alur, latar, gaya bahasa, serta nilai budaya yang dikandungnya. Tujuannya ialah menunjukkan bagaimana kaba ini berfungsi sebagai media pewarisan identitas dan pengetahuan historis Minangkabau.
▪ Analisis Intrinsik
a. Tema
Tema utama kaba ini adalah pengenalan identitas Minangkabau kepada generasi muda. Tema ini berkembang melalui serangkaian pertanyaan anak-anak mengenai asal-usul Minangkabau, siapa orang Minang, asal-usul tambo, luhak nan tigo dan rantau, serta perkembangan nagari. Tema tambahan yang juga kuat ialah nilai pendidikan karakter berupa rasa ingin tahu, hormat kepada orang tua, serta rasa cinta kampung halaman.
b. Tokoh dan Penokohan
-Nik Reno
– Tokoh sentral yang berperan sebagai sumber pengetahuan.
– Karakternya penyayang, bijaksana, dan sabar, meskipun sesekali digambarkan “sedikit pemarah”.
– Ia sebagai penutur adat yang mewariskan cerita adat minangkabau turun menurun ke generasi selanjutnya.
-Wulan dan Bram
– Anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, kritis, dan selalu bertanya.
– Melambangkan generasi muda Minang modern yang terpapar budaya luar dan mempertanyakan kembali identitasnya.
– Melalui mereka, pembaca dibawa menyelami proses pewarisan budaya antar generasi.
c. Alur
Alur kaba ini bersifat episodik, umum dalam sastra lisan. Cerita mulai dari Kedatangan Wulan dan Bram ke kampung, Percakapan tentang identitas Minang, Asal-usul menurut tambo dan sejarah, Asal-usul nama “Minangkabau”, Penjelasan tentang nagari, luhak, rantau, Hingga pantun tentang marantau. Setiap episode berpuncak pada pertanyaan-pertanyaan baru yang memicu cerita berikutnya, sehingga alur berjalan seperti dialog yang bertujuan pembelajaran.
d. Latar
Latar utama adalah rumah gadang dengan suasana kampung yang alami. Latar waktu banyak merujuk pada siang hari atau menunggu Magrib waktu- waktu yang nyaman bagi keluarga untuk bercerita. Latar ini semakin menegaskan bahwa kaba merupakan bagian dari budaya lisan Minangkabau yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
e. Gaya Bahasa
Kaba menggunakan bahasa Minangkabau dialek luhak, dengan banyak idiom adat, istilah historis, dan ungkapan kultural. Gaya dialognya alami, hangat, dan penuh peribahasa serta pantun, seperti:
Karatau madang di hulu
Babuah babungo balun
Marantau bujang dahulu
Di rumah paguno balun
Pantun tentang “marantau cino” :
Tinggi balanjuik lah kau batuang.
Indak ditabang-tabang lai.
Tingga mancaguik lah kau kampuang.
Indak ka dijalang-jalang lai.
Pantun ini mengandung makna idiomatis seseorang yang pergi merandai dan enggan kembali pulang, hilang hubungan dengan kampungnya.
Penggunaan pantun dan idiom memperkaya nuansa tradisi lisan dan mempertegas identitas Minang dalam teks.
▪ Analisis Ekstrinsik
Kaba ini memuat hampir seluruh konsep dasar adat Minangkabau Asal-usul menurut tambo (Sultan Maharajo Dirajo, Datuak Parpatih, Datuak Katumangguangan), konsep luhak nan tigo, darek dan rantau, proses terbentuknya taratak, dusun, kampuang, koto, nagari dan menjelaskan tradisi marantau sebagai ciri khas karakter Minang. Pertanyaan Wulan dan Bram tentang “awak ko sia?” adalah cerminan kegelisahan generasi muda yang tumbuh di lingkungan multietnis. Hal ini relevan dengan realitas sosial kaum Minang yang banyak hidup di perantauan. Kaba memberikan landasan identitas dari asal-usul (tambo dan sejarah), wilayah budaya, adat dan kebiasaan. Dengan demikian, kaba berfungsi sebagai pengokoh identitas kolektif. Ada kekhawatiran Nik Reno terhadap generasi muda yang “indak paduli lai adat”atau “tidak lagi peduli adat”, sebuah realitas yang terjadi dalam masyarakat modern. Melalui ceritanya, kaba ini menyampaikan kritik terhadap melemahnya minat generasi muda terhadap sejarah dan budaya, lunturnya tradisi lisan dalam keluarga, perubahan sosial akibat modernisasi.
▪ Kelebihan dan Kekurangan kaba Nik Reno
- Kelebihan
1. Kaba ini memuat penjelasan lengkap tentang asal-usul Minangkabau menurut tambo, luhak nan tigo, proses terbentuknya nagari, konsep marantau, hingga peran adat dan sejarah. Dengan ini kaba Nik Reno menjadi nilai lebih yang memperkuat fungsi kaba sebagai media transmisi budaya.
2. Gaya bahasa pada kaba ini berhasil membuat pembaca dapat menggambarkan realitas budaya secara nyata.
3. Kaba ini mengisyaratkan keprihatinan terhadap generasi muda yang semakin jauh dari adat. Kritik ini disampaikan secara lembut melalui percakapan, bukan melalui ceramah, sehingga tetap menyentuh serta dapat berpikir kritis.
- Kekurangan
1. Sebagian besar isi kaba berupa penjelasan panjang oleh Nik Reno. Hal ini membuat alur terasa kurang dramatik, konflik tidak menonjol, fokus lebih pada penceritaan sejarah. Akibatnya, aspek sastra seperti ketegangan dan perkembangan konflik kurang terasa.
2. Kaba ini sangat datar dalam struktur konflik. Tidak ada pertentangan batin, konflik karakter, problem dramatik, lebih mengandalkan “cerita dalam cerita” yang disampaikan tokoh. Bagi pembaca modern, ini bisa membuat cerita terasa kurang imajinatif.
3. Tokoh Pendukung Kurang Berkembang Wulan dan Bram berfungsi sebagai penanya tidak ada perkembangan karakter, mereka tidak membuat keputusan yang mengubah alur, interaksinya lebih bersifat responsif daripada aktif.
▪ Kesimpulan
Kaba “Nik Reno” merupakan salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang berfungsi sebagai media pewarisan nilai budaya, dan sejarah. Melalui pendekatan kritik sastra intrinsik dan ekstrinsik, kaba ini memperlihatkan bagaimana tuturan lisan menjadi ruang penting untuk menjaga pengetahuan adat Minangkabau di tengah perubahan sosial.
Secara intrinsik, kaba ini menonjolkan tema pendidikan identitas Minangkabau. Struktur cerita yang bersifat dialogis memperlihatkan pola khas sastra lisan yang mengutamakan penjelasan, petuah, dan pengetahuan adat. Penggambaran tokoh Nik Reno sebagai figur bijaksana serta penggunaan idiom, peribahasa, dan pantun memperkuat nuansa budaya Minangkabau dalam tuturan. Latar rumah gadang dan suasana kampung menunjukkan bahwa tradisi lisan hidup dalam ruang kehidupan sehari-hari masyarakat Minang. Dari sisi ekstrinsik, Pertanyaan Wulan dan Bram mencerminkan kegelisahan identitas generasi muda Minangkabau masa kini. Dengan demikian, kaba ini tidak hanya menjadi cerita hiburan, tetapi juga sarana penguatan identitas etnik dan refleksi sosial terhadap melemahnya perhatian generasi muda terhadap tradisi.
Dari hasil analisis, kaba “Nik Reno” memiliki kelebihan pada kelengkapan informasi adat dan kekuatan bahasa budaya, namun juga memiliki keterbatasan dari sisi dramatika karena alur yang datar dan minim konflik. Hal ini dapat dipahami karena tujuan utama kaba bukanlah membangun ketegangan cerita, tetapi menyampaikan ajaran dan pengetahuan.
Secara keseluruhan, kaba “Nik Reno” berhasil memperlihatkan fungsi sastra lisan sebagai media transmisi budaya dan identitas Minangkabau. Melalui percakapan yang sederhana namun sarat makna, kaba ini menegaskan bahwa tradisi lisan masih menjadi pondasi penting dalam menjaga keberlanjutan nilai adat, sejarah, dan karakter masyarakat Minang, terutama dalam menghadapi tantangan modernisasi dan perubahan generasi.