Ingek-Ingek Nan di Ateh, Nan di Bawah Kok Maimpok
Oleh : Fina Rahmadani
Budaya Minangkabau sangat beragam dan kaya akan nilai-nilai filosofis yang tercermin dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari seninya, adat istiadat, hingga bahasa dan ungkapan tradisionalnya. Ungkapan tradisional Minangkabau adalah bentuk komunikasi lisan yang dapat berisi nasehat, pepatah, dan peribahasa yang diwariskan secara turun temurun dalam masyarakat Minangkabau. Ungkapan dapat mengandung nilai-nilai seperti nilai moral, nilai etika, dan ajaran yang berfungsi sebagai pedoman hidup di Minangkabau. Di dalam artikel ini akan membahas ungkapan tradisional minangkabau “ingek-ingek nan di ateh, nan di bawah kok maimpok”.
Petatah petitih “ingek-ingek nan di ateh, nan di bawah kok maimpok” secara harfiah nya dapat di terjemahkan sebagai “ingat-ingat yang di atas, yang di bawah bisa melompat”. Makna dari petatah petitih “ingat-ingat yang diatas” adalah bagaimana kita bisa megingat bahwa di atas kita masih ada Allah Swt. Sedangkan makna dari “yang di bawah bisa melompat” adalah sebuah nasehat agar tidak meremehkan sesuatu yang terlihat kecil dan lemah, karena bisa saja yang kita lihat itu berubah menjadi masalah besar apabila kita abaikan.
Makna dari gabungan kedua petatah petitih ini adalah sebuah peringatan atau sebuah nasehat agar selalu waspada dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Ungkapan tradisional ini dapat mengajarkan kita untuk selalu ingat dan sadar akan situasi di sekitar, baik yang terlihat jelas maupun sebaliknya. Ungkapan tradisional ini juga menekankan kita akan pentingnya kewaspadaan dan ke hati-hatian kita dalam mengambil sebuah keputusan serta bertindak, karena apabila kita gegabah sesuatu yang tampak baik-baik saja akan bisa saja tiba-tiba berubah menjadi sebuah masalah yang serius apabila tidak diperhatikan dengan benar.
Karakteristik utama dari Ungkapan Tradisional Minangkabau adalah mengandung pesan-pesan moral yang bertujuan untuk mendidik dan membimbing dalam bersikap, selanjutnya agar mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal, sering menggunakan bahasa ungkapan merupakan simbolik dalam menyampaikan pesan yang mendalam dan bermakna, ungkapan juga berperan sebagai alat pendidikan non-formal dalam masyarakat untuk membagi ilmu pengetahuan, norma dari generasi ke generasi selanjutnya.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari misalnya di dalam pekerjaan : seorang karyawan harus selalu waspada terhadap keputusan yang diambil oleh atasannya, karena keputusan tersebut bisa saja berdampak besar bagi pekerjaan karyawan lainnya (ingek-ingek nan diateh). Pada saat itu juga karyawan harus memperhatikan serta menghargai pendapat dan ide atau saran dari rekan kerjanya yang mungkin nampak kurang berpegalaman, karena ide atau saran itu bisa saja menjadi solusi bagi mereka semua (nan di bawah kok maimpok).
Contoh petatah petitih yang berhubungan dengan ungkapan “ingek-ingek nan di ateh, nan di bawah kok maimpok” :
a. Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang, yang maknanya kita harus menghormati adat dan kebiasaan setempat dan memperhatikan norma-norma yang ada
b. Nan ampek baleh, nan limo suku, maknanya kita harus selalu ingat untuk memperhatikan keseluruhan baik yang besar maupun yang kecil
c. Kok hilang padi, jaguang nan dicari, maknanya jangan meremehkan apa yang ada bisa saja yang nampaknya tidak bisa diharapkan maka akan jadi penyelamat
Contohnya dalam pendidikan : guru harus mengawasi murid-murid yang berprestasi dan memastikan bahwa muridnya terus berkembang (ingek-ingek nan di ateh). Tetapi guru juga harus memerhatikan murid yang tampak kurang ber prestasi, karena bisa saja mereka memiliki potensi besar dalam bidang lain (nan di bawah kok maimpok).