70:30 Mendukung atau 30:70 Menolak? Waktunya Uji Legitimasi Tambang Bukit Sanggul
Suara Elit Pejabat dan Oligarki Perusahaan yang Perlu Diyakinkan — atau Suara Rakyat yang Harus Didengarkan?
Opini Publik: Vox Populi Vox Dei
Suara Rakyat di Kaki Bukit
JurnalBengkulu.com - Di Seluma, udara pagi yang biasanya membawa kesejukan dari hutan kini diselimuti kabar panas: rencana penambangan emas oleh PT Energi Swa Dinamika Muda (ESDMu) di kawasan Bukit Sanggul.
Bukit yang selama ini menjadi benteng air, sumber penghidupan, dan ruang budaya masyarakat adat, kini berada di persimpangan — antara harapan ekonomi dan ancaman ekologis.
Bagi masyarakat di Talo, Seluma Utara, dan sekitarnya, Bukit Sanggul bukan sekadar kontur di peta. Ia adalah nadi kehidupan: airnya mengalir ke sawah, udaranya menjaga keseimbangan iklim, dan hutannya melindungi desa dari bencana.
Namun di balik janji kesejahteraan dari proyek tambang, banyak warga justru merasakan ketakutan akan kehilangan tanah, air, dan masa depan.
Janji Emas, Bayang-Bayang Lumpur
Pemerintah daerah dan pihak perusahaan gencar menyuarakan narasi positif: lapangan kerja, peningkatan PAD, dan pembangunan infrastruktur.
Klaim itu menggoda, namun belum pernah disertai peta jalan yang transparan — berapa besar manfaat nyata bagi masyarakat, dan bagaimana mitigasi dampaknya?
Sebaliknya, kelompok masyarakat, aktivis lingkungan, dan mahasiswa melihat potensi bencana ekologis besar di depan mata:
Kerusakan hulu DAS Air Seluma yang menghidupi lebih dari 2.000 hektare sawah.
Ancaman pencemaran air akibat penggunaan bahan kimia seperti sianida dan merkuri.
Hilangnya hutan lindung dan situs budaya lokal.Potensi konflik sosial antarwarga pro dan kontra tambang.
Dari sisi ekonomi jangka panjang, tambang sering hanya memberi manfaat sesaat: pekerjaan temporer dan PAD yang terbatas. Setelahnya, masyarakat justru mewarisi beban lingkungan lintas generasi.70:30 Mendukung atau 30:70 Menolak? Saatnya Transparansi!
Sejumlah pihak mengklaim bahwa 70 persen warga Seluma mendukung PT ESDMu, dan hanya 30 persen yang menolak.
Namun, klaim ini tidak pernah dibuktikan melalui survei independen.Sebaliknya, berbagai aksi warga — mulai dari penolakan terbuka, spanduk protes, hingga forum masyarakat adat — justru memperlihatkan bahwa realitas bisa terbalik: 30 persen mendukung, 70 persen menolak.
Inilah alasan mengapa survei opini publik independen menjadi kebutuhan mendesak.
Bukan sekadar mencari angka, tetapi menguji legitimasi sosial proyek tambang ini.
Desain Survei yang Ideal pertanyaan utama:
“Apakah masyarakat Seluma mendukung atau menolak PT ESDMu melakukan eksplorasi dan eksploitasi tambang emas di Bukit Sanggul?”
Untuk menjawabnya secara objektif, survei perlu dirancang dengan metodologi yang kuat dan transparan:
Komponen
Rekomendasi
Populasi
Masyarakat Kabupaten Seluma, khususnya di wilayah sekitar Bukit Sanggul
Sampel
Minimal 1.200 responden dengan margin of error ±3%
Metode
Wawancara langsung dan survei daring lokal
Variabel Kunci
Pengetahuan tentang proyek tambang, persepsi dampak lingkungan, kepercayaan pada pemerintah dan perusahaan, serta keterlibatan dalam sosialisasi AMDAL
Pelaksana
Lembaga independen seperti universitas, LSM lingkungan, atau lembaga riset mediaHasil survei semacam ini akan menjadi bukti sosial-politik:
Apakah benar rakyat Seluma setuju — atau justru mayoritas menolak?
Antara Izin dan Legitimasi
Perlu diingat: izin tambang bukan izin moral.
Legalitas administratif tidak otomatis berarti legitimasi sosial.
Ketika masyarakat tidak dilibatkan sejak awal, sosialisasi minim, dan dokumen AMDAL tidak transparan, maka proyek sebesar apa pun akan kehilangan hak moralnya di mata rakyat.Bukit Sanggul bukan sekadar tanah berlapis emas. Ia adalah tulang punggung ekosistem, sumber air, dan warisan budaya.
Jika pemerintah dan perusahaan hanya berpatokan pada izin teknis tanpa mendengar suara warga, maka yang mereka gali bukan emas — melainkan kepercayaan publik.
Seruan: Vox Populi, Vox Dei
Rakyat Seluma berhak bersuara.
Mereka berhak tahu siapa yang bermain, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang menanggung kerugian.Jika proyek tambang ini benar-benar untuk rakyat, maka biarkan rakyat yang menentukannya.
Kami menantang:
PT Energi Swa Dinamika Muda (ESDMu),
Pemerintah Kabupaten Seluma, danPemerintah Provinsi Bengkulu
untuk membuka diri terhadap survei publik yang independen dan transparan.
Hanya dengan cara itu kita tahu, apakah benar “70:30” mendukung — atau justru “30:70” menolak.
Penutup: Menjaga Emas yang Sebenarnya
Bagi rakyat Seluma, emas yang sejati bukan yang digali dari perut bumi, melainkan yang tumbuh di sawah, di kebun, dan di hutan yang tetap lestari.
Jika tambang hanya akan mengeringkan sungai dan menanam benih konflik, maka tidak ada kesejahteraan yang akan lahir darinya.Vox Populi, Vox Dei — suara rakyat adalah suara Tuhan.
Dan hari ini, suara itu bergema dari kaki Bukit Sanggul:“Jangan korbankan masa depan demi tambang yang tak pasti.”