Silek : Sebuah Seni Bela Diri Tradisional di Minangkabau
oleh : Fina Rahmadani
Silek sebagai tradisi di Minangkabau merupakan sebuah gabungan gerak bela diri yang memiliki falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”. Maksud dari “Alam Takambang Jadi Guru” disini adalah “Alam” yang terdiri atas bagian atau unsur-unsur yang berbeda tetapi otonom, seperti air, api, angin, dan tanah. Setiap unsur ini saling berkompetisi, saling berhubungan, saling terkait, saling mempengaruhi, dan saling bekerja sama. Asal usul silek di Minangkabau adalah berawal dari kedatangan Hyang Paduko Sri Maharajo Dirajo (9500 SM) dari tannah basa (Benua Atlantis) ke Benua pulau Paco (Nusantara) yang bersemayam di puncak Gunung Merapi dengan membawa pasukan pengawal dibawah pimpinan panglimo dubalangnya.
Silek diperkirakan sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan kecil di Minangkabau yang berfungsi untuk sebagai sarana pertahanan diri dan menjaga kehormatan marga. Silek banyak diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Silek memiliki banyak aliran, dengan ciri khas dan teknik yang berbeda-beda. Diantaranya adalah :
1. Silek Tuo
Silek Tuo adalah salah satu aliran silek tertua dan yang paling asli di Minangkabau. Ciri khas dari Silek Tuo adalah memiliki gerakan yang lembut dan mengalir seperti tarian yang tidak hanya untuk menyerang tetapi juga mengandung keindahan dan estetika. Gerakan Silek Tuo terinspirasi dari alam, seperti gerakan hewan atau aliran air, yang mencerminkan harmoni antara manusia dan alam yang menjadi bagian dari filosofi hidup orang Minangkabau. Pertunjukan Silek Tuo biasanya diiringi oleh music tradisional Minangkabau, seperti saluang.
2. Silek Harimau
Dinamakan Silek Harimau karena gerakan-gerakannya yang menyerupai harimau yang gesit, lincah, dan kuat. Ciri khas dari Silek Harimau adalah gerakan yang mengikuti gerak harimau, mulai dari cara mengintai mangsa, melompat, hingga menyerang. Silek harimau dikenal dengan gerakannya yang cepat dan serangan-serangan yang tepat sasaran. Serangan pada silek harimau seringkali ditujukan pada titik-titik vital tubuh lawan seperti leher, ulu hati, dan sendi-sendi.
3. Silek Bungo
Silek Bungo adalah aliran silek yang memiliki ciri khas tersendiri. Nama “Bungo” merujuk pada “Bunga” dalam bahasa Indonesia yang menggambarkan keindahan dan keanggunan gerakan dalam aliran silek ini. Ciri khas dari silek Bungo adalah gerakannya yang elegan dan indah yang menekankan pada keindahan dan kelenturan gerakan. Gerakan-gerakan dalam silek Bungo terinspirasi dari alam, seperti gerakan bunga yang mekar atau aliran air.
4. Silek Sitaralak
Silek ini dikenal dengan karakteristiknya yang keras dan cepat. Ciri khas dari silek sitaralak adalah gerakannya yang cepat dan mematikan. Menekankan pada kecepatan dan kekuatan dalam setiap gerakan dan serangannya yang langsung menuju titik vital lawan. Silek ini juga memanfaatkan tenaga lawan, seperti mengalihkan atau membalikkan serangan lawan untuk dilumpuhkan.
5. Silek Kumango
Silek Kumango diciptakan oleh Syekh Abdurrahman al-Khalidi, seorang ulama dan pendekar silat dari Nagari Kumango, Tanah Datar, Sumatera Barat. Ciri khas dari silek Kumango ini adalah perpaduan antara agama dan seni bela diri yang gerakannya dikaitkan dengan konsep dalam Islam sepertu Tauhid, Shalat, dan Zikir. Silek Kumango menggunakan konsep langkah Ampek (Langkah Empat) yang melambangkan langkah alif-lam, lam-ha, mim-ha, dan mim-dal.