Saluang Bagurau dari Payakumbuh
Penulis :
Nama : Uswah Qoimah
Tempat/tanggal lahir : Bekasi / 22 , November 2003
Alamat: Painan, Pesisir Selatan
Pekerjaan : Mahasiswa Universitas AndalasIndonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya, dari sabang sampai merauke terhampar beribu adat/etnis yang berbeda dari yang lainnya. Inilah yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Setiap adat mempunyai segudang tradisi yang dimiliki sehingga memberikan warna tersendiri pada wajah Indonesia yang dapat mengangkat Indonesia di mata dunia. Indonesia juga merupakan wisata budaya yang paling banyak di minati oleh negara-negara di belahan dunia karena Indonesia kaya akan tradisi yang unik dan menarik.
Kali ini saya akan membahas mengenai salah satu tradisi yang ada di daerah sumatera barat yaitu payakumbuh. Sebelum itu, mari saya jelaskan sedikit mengenai payakumbuh. Payakumbuh adalah sebuah kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota Payakumbuh merupakan enclave dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Hingga pertengahan tahun 2021, kota Payakumbuhi berpenduduk 141.171 jiwa. Pengurus Payakumbuhi telah menerima beberapa penghargaan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan pertumbuhan ekonomi 6,38 persen, naik menjadi 6,79 persen pada 2011. Payakumbuh adalah salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Sumatera Barat. Inovasi di bidang sanitasi, pengelolaan sampah, pasar tradisional yang sehat, pengembangan pedagang kaki lima, dan drainase perkotaan mengantarkan kota ini meraih penghargaan Urban Management Innovation Award (IMP) 2012, Indonesia Green Region Award (IGRA), Wistara Healthy City, dan beberapa penghargaan lainnya yang diraih.
Kota Payakumbuh khususnya pusat kota dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Setelah Belanda terlibat dalam Perang Padri, kawasan itu berkembang menjadi depo atau gudang produk kopi dan menjadi salah satu wilayah administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda saat itu. Menurut Tambo setempat, salah satu distrik tersebut merupakan rumah bagi Nagari tertua, yaitu Nagari Aie Tabik, dan pada tahun 1840 Belanda membangun jembatan batu untuk menghubungkan kawasan itu dengan yang sekarang menjadi pusat kota.[6] Saat ini jembatan tersebut juga dikenal sebagai Jembatan Ibu Menangis.
Sejak kemerdekaan, Payakumbuh menjadi pusat pelayanan pemerintahan, perdagangan dan pendidikan, khususnya Luhak Limo Puluah. Pada masa penjajahan Belanda, Payakumbuh merupakan kediaman wakil yang menguasai wilayah Luhak Limo Puluah dan pada masa penjajahan Jepang, Payakumbuh menjadi pusat pemerintahan Luhak Limo Puluah.
Sejumlah pertunjukan adat, termasuk tarian daerah yang diramu dengan gerakan silat dan diiringi nyanyian, berlangsung di kota Payakumbuhi, biasanya dipentaskan sebagai bagian dari acara adat atau pertunjukan kesenian yang disebut randos. Salah satu kelompok Randai yang paling terkenal berasal dari daerah Padang Ala dan disebut Randai Cindua Mato.
Warga Payakumbuh juga terkenal dengan alat musik ala Talempong yang identik dengan alat musik gamelan Jawa dan biasa dimainkan pada upacara adat, pernikahan, dll. Selain itu, ada alat musik lain di kota ini yaitu saluang, yaitu sejenis alat musik tiup atau seruling.
Salah satu tradisi yang saya amati ketuka saya kuliah lapangan ke payakumbuh adalah saluang bagurau dan Dendang. Waktu saya sampai ke lokasi sebelum pertunjukan dimulai saya beserta beberapa teman-teman saya sempat mewawancarai beberapa warga di sekitaran sana, kami mengajukan beberapa pertanyaan mengenai saluang bagurau dan ini lah data yang kami dapat kan dari beberapa narasumber tersebut.
Saluang bagurau yang merupakan pertunjukkan musikal yang diiringi oleh alat musik tiup, yaitu saluang dan dimeriahkan oleh lirik-lirik yang dinyanyikan oleh para pedendang. Kesenian Bagurau Saluang dan Dendang bisanya banyak kita jumpai di daerah Payakumbuh.
Bagurau Samalam Suntuak merupakan sebuah tradisi saluang bagurau yang dilakukan di Kota Payakumbuh. Biasanya dilakukan pada jam 21:00 – subuh. Saluang Bagurau merupakan suatu seni pertunjukkan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau untuk berkelakar atau menceritakan sesuatu dalam suasana keakraban (Rustim et al., 2019). Sesuai dengan namanya Bagurau yang berasal dari kata bergurau yang artinya merupakan salah satu tradisi bercakap-cakap dalam suasana yang akrab dan hangat, sindir-sindiran melalui ungkapan-ungkapan bahasa yang tajam. Seperti sebuah kebiasaan masyarakat Minangkabau untuk berkumpul bersama sambil bercerita dengan saling sindir-menyindir, bahkan sampai mencemooh.
Saluang Bagurau dilakukan oleh peniup saluang, pemain dendang, pemain organ, dan tukang hoyak. Saluang Bagurau atau yang bisa kita sebut Bagurau Lapiak, biasanya dapat kita temui pada malam hari di sebuah kadai kopi atau emperan toko.
Pada saat tradisi Saluang Bagurau berlangsung, para penonton yang hadir turut meramaikan dengan cara meminta pendendang untuk menyanyikan sebuah lagu, menyampaikan sebuah pantun, dan menyampaikan sebuah pesan kepada tukang hoyak. Pesan yang disampaikan biasanya berupa nasehat, lelucon, bahkan sindiran. Dan sesuai namanya “Bergurau” tidak dimasukkan ke dalam hati dan menganggap itu sebagai hiburan malam untuk melepas penat aktivitas. Ketika para penonton menyampaikan pesan kepada tukang hoyak para penonton memasukkan uang ke kotak uang yang sudah di sediakan di dekat tukang hoyak.
Itulah data yang kami dapatkan dari beberapa narasumber yang kami wawancarai dan dari apa yang kami amati ketika melihat pertunjukan itu pun ya sesuai dengan dengan apa yang para narasumber katakan . ini juga merupakan pengalaman pertama saya dan teman – teman saya yang lain menyaksikan pertunjukan saluang bagurau ini. Saya sangat ingin melihat lagi pertunjukan tersebut karna saya merasa kurang puas karena waktu itu saya tidak menyaksikan nya Hingga selesai karna kami di kejar waktu untuk kembali ke kampus. Kalau kalian penasaran dengan tradisi ini kalian bisa datang langsung ke payakumbuh karna tradisi ini tidak ada di daerah lainnya, hanya ada satu-satunya di payakumbuh.