Penjajah Lebih Menjaga Hutan daripada Kita Sendiri, Kata Kang Dedy Mulyadi (KDM)
Opini Publik :Vox Populi VD
Bencana Sumatra, Bengkulu, dan Bukit Sanggul yang Diincar Tambang.
Bencana besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara bukan sekadar kisah duka tahunan. Ia adalah peta luka ekologis Indonesia, luka yang kita buat sendiri. Banjir bandang, sungai yang berubah menjadi lumpur, dan bukit yang runtuh tak lagi mengejutkan publik. Yang mengejutkan justru ketidakmampuan pemerintah membaca pola yang sama berulang kali.
Di tengah tragedi itu, suara Kang Dedy Mulyadi (KDM) kembali mencuat: "Penjajah dulu lebih menjaga hutan daripada kita sendiri."
Sebuah frasa yang pahit, tetapi terlalu benar untuk disangkal, apalagi ketika kita melihat bagaimana hutan di Sumatra dihancurkan dan bagaimana Bengkulu kini mengulang pola yang sama melalui rencana tambang emas di Bukit Sanggul, Seluma.
Jejak Bencana Sumatra: Alam Mengingat, Kita Mengulang
Banjir yang menghantam Aceh, Sumbar, dan Sumut bukan hanya akibat hujan ekstrem. Itu akibat hilangnya tutupan hutan dalam skala massif. Data menunjukkan:
1. Sumbar kehilangan lebih dari 180 ribu hektare hutan dalam dua dekade.
2. Aceh memiliki hampir seratus titik rawan longsor aktif.
3. DAS di Sumut mengalami sedimentasi hingga 5 kali lipat.
Semua ini pola klasik: Bukit gundul — Sungai meluap — Rakyat tenggelam. Dan pola inilah yang kini mengancam Bengkulu, terutama Seluma. Bukit Sanggul: Bengkulu Berjalan ke Arah Bencana yang Sama
Bengkulu sesungguhnya tidak berada di luar peta kerusakan ekologis. Provinsi ini dikurung oleh gunung, DAS, dan kawasan lindung yang terhubung langsung dengan bentang alam Sumatra bagian tengah. Namun justru di titik strategis ini muncul rencana tambang emas skala besar di Bukit Sanggul, Seluma.
Sebuah area yang: menjadi benteng alami dari banjir pesisir, penyangga DAS Seluma dan Tais,
habitat satwa, sumber air masyarakat dan wilayah potensial longsor jika bukitnya dibelah.Ketika masyarakat Bengkulu ramai menolak di media sosial, itu bukan histeria. Itu kesadaran ekologis. Mereka baru saja melihat Sumatra runtuh, dan mereka tahu: Bengkulu sedang diarahkan ke jalan yang sama.
Suara KDM dan Tamparan untuk Daerah: Jangan Ulangi Keserakahan Sumatra
Pernyataan KDM menjadi relevan bukan hanya untuk Jawa Barat, tetapi untuk Bengkulu yang kini berada di persimpangan. Ketika KDM berkata bahwa penjajah lebih menjaga hutan, ia sedang menggugat daerah-daerah yang dengan mudah menyerahkan bukit, gunung, dan hutan kepada perusahaan tambang.
Bengkulu harusnya belajar dari bencana Aceh–Sumbar–Sumut:
ketika izin tambang dibuka, maka izin bencana turut ditandatangani.Bukit Sanggul bukan hanya tanah yang berisi emas. Ia adalah tembok alam yang menjaga Seluma dari banjir besar.
Jika tembok itu dirobohkan alat berat, siapa yang akan menahan air?
Siapa yang akan menahan lumpur?
Siapa yang akan menahan longsor?KDM akan berkata:
“Penjajah saja tidak seceroboh itu.”
Politik Tambang Bengkulu: Dari Meja Perizinan Menuju Hutan Rumah RakyatVox Populi VD mencatat bahwa pola perizinan selalu sama:
1. Pejabat daerah mengatakan tambang untuk investasi.
2. Korporasi masuk, membelah bukit, menggunduli hutan.
3. Ketika bencana datang, mereka menyebutnya ‘musibah’.
Padahal “musibah” itu sudah tercetak jelas sejak pertama kali tanda tangan ditekan di atas kertas izin.
Bengkulu tidak butuh prediksi ahli untuk mengetahui apa yang akan terjadi jika Bukit Sanggul ditambang.
Cukup lihat Aceh.
Lihat Sumbar.
Lihat Sumut.
Semua bencana itu lahir dari konsesi yang hari ini coba diulang di Seluma.
Bangsa Merdeka, Tapi Hutan TidakKDM benar: Indonesia merdeka dari penjajah Eropa, tetapi belum merdeka dari mentalitas kolonial terhadap alam. Jika penjajah dulu memelihara hutan karena memahami nilai jangka panjangnya, kita kini menghancurkannya demi keuntungan lima tahunan, bahkan kadang hanya lima bulanan.
Bukit Sanggul adalah cermin itu.
Apa yang dipertahankan penjajah dalam sistem konservasi, kini dihancurkan oleh bangsa yang mengaku pemilik tanah ini.
Penutup: Suara Rakyat Bengkulu Adalah Gugatan SejarahBencana yang terjadi di Sumatra adalah peringatan keras bagi Bengkulu.
Jika pemerintah tetap memaksakan tambang emas di Bukit Sanggul, maka bukan hanya Seluma yang akan menanggung, tetapi seluruh bentang alam pesisir Bengkulu.Maka Vox Populi VD menyampaikan pertanyaan yang kini berputar di kepala rakyat:
Jika penjajah dulu saja bisa menjaga hutan,
mengapa pemerintah yang lahir dari tanah ini sendiri justru lebih ganas merusaknya?Dan jika Bukit Sanggul akhirnya dipreteli,
maka sejarah akan mencatat bahwa bencana itu bukan takdir, tetapi keputusan politik yang disengaja.