Pacu Itiak, Tradisi Unik Asal Payakumbuh
Oleh : Maysah Hanum, Mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas Padang
Masyarakat Minangkabau tepatnya di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota memiliki permainan tradisi yang unik dan menarik. Selain pacu jawi yang menggunakan sapi, ada juga sebuah permainan yang dijadikan lomba yang juga melibatkan hewan peliharaan lainnya yang tak kalah menarik. Permainan yang dimaksudkan adalah pacu itiak yang menggunakan bebek atau itik untuk dilombakan dan selalu seru ketika digelar.
Pacu itiak atau biasa dikenal dengan pacu terbang itik merupakan salah satu bagian dari permainan nagari yang ada di Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Dimainkan oleh para petani sejak dulu kala, hingga kini masih dimainkan dan tetap populer disana. Permainan ini memperlombakan kemampuan itik yang terbang lurus di atas udara dan mendarat pada tempat yang sudah ditentukan.Tradisi pacu itiak bermula pada tahun 1926, oleh seorang petani yang bernama Burahan yang memiliki ternak itik, tepatnya di Nagari Aia Tabik Kelurahan Sicincin Mudiak, Kecamatan Payakumbuh Timur. Ia merasa heran dengan itik yang dimilikinya bisa terbang, padahal itik adalah hewan bertelur. Ia terus memperhatikan itiknya sehari-hari yang selalu suka terbang. Lalu Burahan menceritakan tentang Itiknya yang bisa terbang kepada teman-temannya. Namun tidak ada satupun dari teman-temannya yang percaya.
Keesokan harinya Burahan mengajak teman-temannya ke sawah untuk melihat itiknya, maka terlihatlah kawanan itik yang terbang dari sawah ke sawah. Lalu mereka mencoba mengambil itik dan menerbangkannya dari atas bukit. Setelah menerbangkan itik tersebut, terdapat beberapa perbedaan baik itu dari bentuk, jenis, dan ciri-ciri itik yang bisa terbang. Burahan dan temannya mencoba mengambil jenis itik yang lain untuk diterbangkan. Ternyata jenis itik lain tidak bisa terbang, selain dari itik petelur.
Dari kejadian itu , timbullah ide dari Burahan untuk menerbangkan itik tidak lagi di sawah, melainkan di jalan perkampungan masyarakat, ternyata itik tetap bisa terbang dengan baik. Burahan dan temannya mencoba mengadakan pacu itik seadanya lalu mengenalkan ke masyarakat tentang kegiatan ini. Tepat pada tahun 1928 dari hasil uji coba pacu itik dari atas bukit, dan dari sawah kesawah lalu dibawa ke jalan besar, maka diadakanlah lomba pacu itik pada acara-acara besar yang ada di nagari, seperti Alek Nagari, Pernikahan, Batagak Rumah Gadang, dan lainnya.
Permainan Pacu Itiak ini hanya terdapat di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Tetapi tidak di semua Nagari atau Kampung di Payakumbuh dan Limapuluh Kota yang punya tradisi Pacu Itiak ini. Hanya ada empat Nagari yang mewarisi tradisi pacu itiak tersebut. Keempat Nagari tersebut adalah Nagari Aua Kuniang dan Nagari Aia Tabik di Kota Payakumbuh, Nagari Sikabu-kabu Tanjuang Haro Padang-Panjang dan Nagari Sungai Kamunyang Jorong Rageh Kecamatan Luak di Kabupaten Limapuluh Kota.
Dalam Pacu Itiak ini juga diberikan sebuah ketentuan dan peraturan. Dalam perlombaan Pacu Itiak, itik yang ikut bertanding harus berusia 4-6 bulan. Itik juga harus terbang lurus dan mendarat di atas atau di bawah garis yang sudah ditentukan. Dalam perlombaan pacu itiak, ada empat nomor yang akan dipertandingkan. Jarak pacuan pada setiap nomor pun berbeda-beda. Nomor pertandingan pertama dimulai dari 800 meter, 1.000 meter, 1.200 meter, sampai dengan 1.600 meter atau yang biasa disebut sebagai pacuan boko (pacuan bebas).
Untuk nomor pertandingan 800 meter dan 1.000 meter, setiap itik yang dilempar joki ataupun pemiliknya ke atas udara, setelah terbang lurus di atas ketinggian 10 hingga 20 meter, harus mendarat di bawah garis finish yang sudah ditentukan. Kalau itik yang ikut berpacu, mendaratnya lewat dari garis finish, maka itik tersebut dinyatakan gugur. Sedangkan untuk pacu itiak dengan nomor pertandingan 1.200 meter dan 1.600 meter, itik yang ikut bertanding, mendaratnya tidak harus di garis finish. Itik boleh mendarat dimana saja baik di atas atau pun di bawah garis yang sudah ditentukan. Tapi dengan syarat, itik tersebut tetap harus terbang lurus.
Biasanya, itik yang jago terbang itu mempunyai gigi berjumlah ganjil. Kalau tidak 5, bisa 7 atau 9 gigi. Kemudian, punya warna kaki yang sama dengan warna paruhnya. Selain itu, bisa juga dilihat dari sisiak muko (sirip di kaki depan itik). Kalau sirip di kaki depan itik pecah, biasanya itik tersebut pandai terbang.
Selain dapat dilihat dari gigi dan siripnya, itik yang jago terbang juga punya tanda pada sayap darehnya (dua sayap kecil di atas kedua sayap besar). Kedua sayap dareh itik pacuan harus lurus. Kalau sayap darehnya yang satu ke bawah dan satu lagi ke atas, dijamin itik itu tidak jujur. Jika dalam pertandingan akan sering membelok.
Dalam budaya Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota, itik tidak hanya digunakan sebagai hewan pacuan, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan dan identitas masyarakat. Pacu Itiak juga mengandung nilai-nilai budaya seperti kejujuran, persaingan, kerjasama, dan hiburan. Pacu Itiak telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Payakumbuh dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi Pacu Itiak telah diakui secara resmi oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Payakumbuh dan telah ditekuni secara profesional melalui komunitas Persatuan Olah Raga Terbang Itik (PORTI) sejak tahun 1988.