Jejak Perantau Minangkabau: Merawat Identitas Lewat Solidaritas di Tanah Rantau
Oleh : Ari Yuliasril, Mahasiawa Sastra Minangkabau Universitaa Andalas
Bagi orang Minangkabau, merantau bukan hanya meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan. Merantau juga merupakan bagian dari perjalanan hidup, sebuah proses membangun kekuatan dan kedewasaan. Menurut adat Minangkabau, orang yang belum pernah merantau dianggap belum “selesai”. Ia harus merasakan kehidupan di luar desa, menghadapi tantangan, dan menunjukkan kemampuan untuk bertahan. Namun, bagi orang Minang, merantau tidak berarti melepaskan diri dari akar budaya mereka. Menjaga identitas semakin penting bagi mereka yang hidup di perantauan. Kehidupan penduduk Minangkabau di Kota Metro, Lampung, menunjukkan hal ini. Meskipun mereka jauh dari Sumatera Barat, mereka tetap mempertahankan nilai-nilai adat dan solidaritas.
Merantau, Bukan Sekadar Pergi
Sejak dahulu, anak laki-laki Minangkabau diajarkan bahwa hidup tak hanya tentang berada di bawah perlindungan keluarga. Mereka harus keluar, melihat dunia, dan merasakan kerasnya kehidupan. Di perantauan, mereka dihadapkan pada lingkungan yang berbeda, bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam, serta beradaptasi dengan budaya baru.Tapi yang menarik, meski berada di tanah orang, perantau Minang tidak pernah merasa benar-benar sendirian. Ke mana pun mereka pergi, mereka akan selalu mencari sesama perantau. Tidak butuh waktu lama, mereka akan menemukan komunitas atau paguyuban yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika belum ada, mereka akan membuatnya. Itulah yang terjadi di Kota Metro.
Di sini, orang Minang dari berbagai daerah di Sumatera Barat berkumpul dan membentuk wadah kebersamaan. Ada yang berasal dari Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga Solok. Meski berbeda kampung, mereka tetap merasa satu. Hubungan ini bukan sekadar pertemanan biasa, melainkan sudah seperti keluarga.
Solidaritas yang Tak Lekang oleh Waktu
Di tanah rantau, solidaritas antarperantau Minang bukan hanya slogan. Itu benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada yang baru datang, mereka akan disambut dengan tangan terbuka. Jika ada yang kesulitan ekonomi, sesama perantau akan berusaha membantu, baik dengan uang, pekerjaan, atau sekadar nasihat.
Gotong royong menjadi bagian yang tak terpisahkan. Saat ada yang menikah, semua ikut terlibat, membantu dalam persiapan hingga pelaksanaan acara. Jika ada yang sakit, mereka saling menjenguk dan membantu biaya pengobatan. Bahkan dalam kematian pun, mereka tidak membiarkan sesama perantau menghadapi kesedihan sendirian. Mereka akan bersama-sama mengurus jenazah, menyelenggarakan pengajian, dan memastikan keluarga yang ditinggalkan tetap mendapat dukungan.
Solidaritas ini juga tampak dalam kegiatan ekonomi. Banyak perantau Minang yang membuka usaha di Kota Metro, mulai dari rumah makan hingga toko kelontong. Di antara mereka, ada yang sengaja mempekerjakan sesama perantau agar dapat membantu sesama anak nagari. Mereka percaya bahwa dengan saling menolong, keberkahan akan datang.
Menjaga Adat di Tanah Rantau
Meski hidup di tempat yang jauh dari kampung halaman, perantau Minang tetap teguh pada adat dan budaya mereka. Nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi terus dijaga.
Pernikahan tetap mengikuti adat Minangkabau. Sebelum akad nikah, selalu ada prosesi adat seperti "batimbang tando" atau perundingan antara keluarga calon pengantin. Dalam acara pernikahan, makanan khas Minang tetap disajikan, seperti rendang, gulai itiak, dan lamang. Musik talempong dan dendang juga sering mengiringi pesta, menciptakan suasana yang mengingatkan mereka pada kampung halaman.
Tidak hanya dalam pernikahan, adat juga terasa dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajarkan untuk menghormati orang tua, berbicara sopan, dan menjaga harga diri. Prinsip "malu" masih menjadi pegangan kuat dalam bertindak. Bagi mereka, hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang menjaga martabat keluarga dan kaum.
Dalam menyelesaikan masalah, mereka tetap berpegang pada cara-cara adat. Jika terjadi perselisihan, mereka akan mengutamakan musyawarah. Prinsip “badia bak basi, bajanjang naiak, batanggo turun” tetap dipegang teguh, di mana setiap masalah harus diselesaikan dengan tenang dan penuh kehati-hatian.
Bukan Sekadar Kenangan, Tapi Warisan
Banyak orang berpikir bahwa mempertahankan adat di rantau hanyalah bentuk kerinduan akan kampung halaman. Namun, bagi perantau Minang, ini lebih dari sekadar nostalgia. Mereka menjaga adat bukan karena takut kehilangan identitas, tetapi karena mereka sadar bahwa inilah yang membuat mereka tetap utuh sebagai orang Minang.
Di Kota Metro, anak-anak perantau tetap diajarkan bahasa Minangkabau. Meskipun mereka lahir dan besar di tanah rantau, mereka tetap diajak berbicara dengan bahasa ibu agar tidak lupa dengan akar mereka. Seni dan budaya Minang juga terus diperkenalkan, baik melalui tarian seperti Tari Piring dan Randai, maupun melalui musik tradisional seperti Saluang dan Talempong.
Bahkan dalam makanan, identitas Minang tetap dipertahankan. Rumah makan Padang yang tersebar di berbagai sudut Kota Metro bukan hanya tempat makan, tetapi juga simbol keberadaan perantau Minang. Di sana, mereka tidak hanya menyantap makanan khas, tetapi juga berbincang, berbagi cerita, dan mengobati rindu akan kampung halaman.
Merantau: Pergi, Tapi Tidak Pergi
Kisah perantau Minangkabau di Kota Metro menunjukkan bahwa merantau bukan berarti meninggalkan akar. Justru, di tanah rantau, identitas itu diuji dan diperkuat. Solidaritas menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan kampung halaman, bukan dalam bentuk fisik, tetapi dalam nilai-nilai yang mereka pegang teguh.
Sejauh apa pun mereka melangkah, mereka tetap membawa adat, menjaga budaya, dan membangun komunitas yang solid. Bagi orang Minangkabau, merantau bukan sekadar tentang pergi dan mencari kehidupan yang lebih baik. Ini adalah tentang bagaimana tetap menjadi diri sendiri, tetap menjaga jati diri, dan tetap membawa kampung halaman di dalam hati, ke mana pun mereka pergi.