Jadilah Pemilih Pemula yang Cerdas
Penulis : Moga Dio Lestari, mahasiswi Ilmu Politik Universitas Andalas
Berdasarkan data yang diperoleh, di Sumatera Barat ada 48% pemilih muda dari total calon pemilih yang akan mencoblos di pemilu 2024 mendatang. Pemilih muda ini adalah pemilih yang berusia 19-24 tahun, atau juga disebut generasi muda. Kota Padang adalah peringkat pertama dengan jumlah pemilih muda terbanyak, kemudian disusul Kabupaten Agam dan Pesisir Selatan. Hal ini dikarenakan jumlah suara pemilih muda berbanding lurus dengan usia produktif, dan juga berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia muda di kota Padang.
Sebagai pemilih pemula kita harus tahu bahwa aturan pemilu yang ditetapkan adalah si calon pemilih harus memilih di alamat domisili KTP nya. Jika memang tidak bisa memilih di alamat domisili KTP maka harus mengurus A5 atau surat izin pindah TPS yang bisa dikeluarkan oleh Kelurahan atau juga KPU kota setempat. Fenomena seperti ini biasanya dialami oleh para mahasiswa yang sedang merantau dan mereka tidak bisa pulang ke kampungnya. Maka mereka bisa mencoblos di kota tempat mereka merantau dengan mengurus A5 tersebut.
Pada tahun 2019 tingkat partisipasi pemilih muda cukup tinggi yaitu sekitar 78%. Secara umum ini sudah melampaui target nasional. Hal ini berarti para pemilih muda di provinsi Sumatera Barat sudah sadar akan pentingnya mengikuti pemilu. Bagaimana hasil pemilu tersebut berdampak bagi bangsa dan negara. Dan diharapkan pemilu tahun 2024 mendatang lebih meningkat lagi partisipasi dari pemilih mudanya.
Sebagai pemilih muda kita harus bersikap aktif dan cerdas. Kita harus melihat latar belakang calon pemimpin, lihat rekam jejak nya karena bisa jadi banyak terjadi tipuan². Kita harus menganalisis apakah yang dikatakannya sesuai atau tidak dengan yang dilakukannya. Kita harus memilih pemimpin berdasarkan integritas mereka juga, barulah nasib bangsa dan negara kita ini bisa lebih baik lagi.
Maka dari itu, cara yang bisa dilakukan untuk menjadi pemilih muda yang cerdas adalah dengan peningkatan pendidikan politik. Pendidikan tersebut bisa lewat pendidikan formal, media sosial dan lainnya. Sebagai generasi muda tentunya media sosial sangat berpengaruh terhadap segala aspek, termasuk pemilu. Media sosial ini bisa menjadi sarana yang baik dalam penyampaian edukasi tentang pemilu, akan tetapi bisa juga sebagai media penyebar hoax dan kejahatan lainnya. Kita harus berhati-hati terhadap hal tersebut. KPU juga sebaiknya lebih banyak memberikan layanan dan edukasi melalui websitenya untuk kita sebagai pemilih awam.
Pemilih pemula punya 3 faktor menentukan siapa yang akan dia pilih. Pertama, mazhab sosiologis yaitu berdasarkan siapa yang dipilih oleh keluarga atau kelompoknya maka dia juga memilih orang yang sama. Kedua, mazhab psikologis yaitu berdasarkan visual orangnya maka itulah yang dia pilih. Ketiga, mazhab ekonomi yaitu berdasarkan siapa yang membantunya dalam hal ekonomi. Ketiga faktor ini tentunya bukan ciri-ciri dari pemilih yang cerdas.
Seperti yang kita lihat pada saat debat capres dan cawapres kemarin, seharusnya kita bisa menentukan siapa yang akan dipilih. Mana pemimpin yang paling baik diantara yang terbaik, yang sedikit minusnya. Karena setiap pasangan calon pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebagai pemilih yang cerdas kita harus pandai menentukan. Pada tanggal 7 Januari mendatang akan ada debat capres untuk kedua kalinya, kita bisa melihat lagi siapa yang memang baik untuk memimpin bangsa ini.
Pemilih yang cerdas dan aktif harus punya preferensi tentang siapa yang akan dipilih bukan hanya asal pilih saja. Karena nasib bangsa Indonesia 5 tahun kedepan sangat ditentukan oleh pemilu yang akan dilaksanakan. Semoga di pemilu tanggal 14 Februari 2024 mendatang kita bisa mendapatkan pemimpin yang membawa Indonesia kearah yang lebih baik lagi.