Tangis Haru di Rawa Makmur: Gubernur dan Walikota Datangi Rumah Ansuri
JurnalBengkulu.com, Bengkulu - Di balik tirai rumah sederhana di kawasan Rawa Makmur, tersimpan duka mendalam dari seorang pria paruh baya bernama Ansuri (62). Penyakit diabetes yang menggerogoti tubuhnya tak hanya merampas kesehatan, tetapi juga memaksanya kehilangan satu kaki akibat prosedur amputasi.
Sejak itu, hari-hari Ansuri terasa sunyi. Geraknya terbatas, dunianya seakan menyempit, dan waktu lebih banyak dihabiskan dengan tatapan kosong ke arah jendela rumahnya.
Namun suasana hening tersebut pecah dalam momen Safari Ramadan yang penuh berkah. Bukan sekadar tamu biasa, rombongan pimpinan tertinggi di Provinsi dan Kota Bengkulu hadir langsung di kediamannya, membawa harapan baru.
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan bersama Wakil Gubernur Mian, serta Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi dan Wakil Wali Kota Ronny PL Tobing datang bersimpuh di hadapan Ansuri. Kehadiran empat nakhoda daerah ini menjadi simbol bahwa rakyat kecil tak pernah berjalan sendiri dalam penderitaan.
Suasana berubah haru ketika Gubernur Helmi Hasan berjanji akan memberikan kursi roda baru untuk Ansuri. Bagi pria 62 tahun itu, kursi roda bukan sekadar alat bantu medis, melainkan “kaki baru” yang akan menyambung kembali asa hidupnya. Tak berhenti di situ, dukungan materiil pun mengalir sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah daerah.
Air mata Ansuri pecah. Di sela isak tangisnya, ia hanya mampu membisikkan terima kasih yang mendalam. Ia tak menyangka, di tengah kesibukan mengurus daerah, para pemimpin tersebut masih menyempatkan waktu untuk mendengar keluh kesah seorang warga yang kini harus berjuang dengan satu kaki.
Dalam momen yang sarat makna spiritual itu, para pemimpin daerah memberikan wejangan agar Ansuri tetap teguh, sabar, dan percaya bahwa setiap ujian adalah skenario indah dari Sang Pencipta.
“Tetap tabah, Pak Ansuri. Semua ini adalah ketentuan Allah. Perbanyaklah ibadah dan teruslah mengharap rida-Nya,” pesan mereka, memberi penguatan bahwa meski kaki telah hilang, derajat di mata Tuhan bisa tetap menjulang tinggi.
Kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa di Bengkulu, pelayanan kepada rakyat bukan sekadar urusan administrasi, melainkan panggilan hati yang hadir langsung di saat-saat tersulit warganya.