Baju Pengantin Koto Gadang, Eksis Jadi Baju Pernikahan Adat Minang Di Zaman Sekarang
Penulis :
Oleh : Rahma Asdaqul Asma
Mahasiswa Sastra Minangkabau, FIB UNAND
Zaman sekarang budaya memakai baju tradisional saat pesta pernikahan sudah mulai pudar. Calon calon pengantin lebih memilih memakai baju yang lebih modern seperti gaun gaun layaknya pengantin barat. Namun beberapa waktu kebelakang, baju pengantin koto gadang sudah mulai eksis kembali dipilih sebagai baju yang diginakan untuk acara pernikahan orang minang, bukan hanya orang minang yang tinggal di minang ( Sumatra Barat ) itu sendri tetapi juga perantau minang yang menggelar pernikahan di rantauan. Baju pengantin koto gadang biasanya di pilih menjadi pakaian pengantin saat akad pernikahan dan baju kedua setalah memakai suntiang gadang.
Koto Gadang merupakan sebuah nagari (wilayah pemerintahan setingkat desa) yang terletak di Kabupaten Agam, Propinsi Sumatera Barat. Koto Gadang berjarak lebih kurang 100 km dari Kota Padang (ibukota propinsi) dan 10 km dari Kota Bukittinggi, salah satu kota tujuan wisata di Sumatera barat. visual pakaian pengantin wanitanya yang berbeda dari model pakaian pengantin Minangkabau yang lebih dahulu populer. Jika masyarakat awam sebelumnya lebih mengenal pakaian pengantin wanita Minangkabau identik dengan mahkota yang disebut sunting, pakaian pengantin wanita Koto Gadang justru menggunakan kain penutup kepala atau dalam bahasa setempat disebut tikuluak tilakuang (tengkuluk telekung) Koto Gadang. Model pakaian seperti ini belakangan semakin digemari berbagai kalangan masyarakat di Indonesia sebagai busana pernikahan maupun pada acara-acara resmi kenegaraan yang memungkinkan penggunaan pakaian adat tradisional. Namun demikian sebenarnya tidak hanya pakaian tradisional pengantin wanita, pakaian tradisional pengantin pria dari Koto Gadang juga memiliki karakter khusus yang dapat dilihat dari atribut yang dikenakan.
Dalam tradisi Minangkabau, setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki jenis pakaian tradisionalnya masing-masing terutama dalam setiap acara adat, bahkan pakaian dengan segala kelengkapannya yang berbeda digunakan oleh orang yang memiliki jabatan adat tertentu (Ramadhani & Fitriani, 2018). Namun, pada zaman sekarang yang memakai baju pengantin koto gadang bukan hanya orang yang berasal dari koto gadang itu saja tapi orang minnag yang bukan berasal dari koto gadang juga memakai baju koto gadang karena ciri khas nya yang unik itu.
Sekarang ini semakin banyak corak dan model pakaian pengantin Koto Gadang yang telah dimodifikasi menjadi lebih modern oleh berbagai perancang busana. Beberapa diantaranya kurang sesuai lagi dengan model dan tata cara berpakaian yang sesuai dengan adat sebenarnya, seperti potongan pakaian yang ketat dan penggunaan kebaya. Dalam kebudayaan Minangkabau pengantin perempuan disebut anak Daro dan pengantin pria disebut marapulai. Busana kedua pengantin ini pun lebih umum disebut baju anak Daro dan baju Marapulai. Walaupun disebut sebagai baju namun busana yang digunakan sudah termasuk segala atribut pelengkap dari bagian kepala hingga ujung kaki. Pada bagian penutup kepala pakaian pengantin Koto Gadang, atribut busana yang dapat dijadikan penanda visual terdapat pada penutup kepala, baik pada busana perempuan maupun laki-laki. Pada pakaian pengantin perempuan penutup kepala tersebut adalah tikuluak tilakuang (tengkuluk telekung). Tikuluak merupakan sebutan untuk penutup kepala perempuan dalam khasanah pakaian adat tradisional Minangkabau sedangkan tilakuang merujuk pada busana telekung. Telekung adalah busana sholat perempuan berbahan kain yang dipasangkan pada bagian kepala dan kemudian menjulur hingga ke bawah pinggang yang berfungsi menutupi tubuh perempuan.
Hal yang utama menjadi penarik dan pendorong seseorang memilih pakaian pengantin koto gadang di acara pernikahan nya ialah baju koto gadang yang simple dan elegan namun terkandung banyak makna yang terkandung didalam baju pengantin koto gadang itu sendiri.