Sekelumit Cerita “Bung Karno” di Bengkulu

By on February 11, 2013
bung karno

Menurut cerita yang ia peroleh dari guru Taman Siswanya dahulu, Salmiah Pane, isteri M.A. Chanafiah , Bung Karno itu datang ke Bengkulu pada tahun 1938, dia  datang dari Ende, Flores, Nusa Tenggara. Kedatangan Bung Karno waktu itu telah diketahui oleh orang-orang pergerakan di Bengkulu sebelumnya.  Mereka ini diam-diam telah membentuk panitia penyambutan  kedatangan Bung Karno.

Kepindahan Bung Karno dari Ende ke Bengkulu ini sudah lama diketahui Salmiah. Ia mengetahuinya karena mendapat telepon dari orang  pergerakan di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Mereka mengatakan bahwasanya Bung Karno menumpang bus dari Lubuk Linggau. Mendengar kabar tersebut, para pejuang pergerakan melakukan penjemputan dan mereka berhati-hati sekali terhadap penjemputan tersebut.

Apalagi pada saat itu  bendera merah putih biru sedang berkibar dengan megahnya. Saat itu Indonesia masih bernama Netherland Indie (Hindia Belanda) yang berada di bawah  pemerintahan Kerajaan Belanda, waktu itu ratunya bernama Wilhelmina ibunya Ratu Yuliana. Penjemputan Bung Karno dibagi dalam 2 kelompok. Satu kelompok menunggu di Pasar Pengantungan. Satu kelompok lagi menunggu di tempat pemberhentian bus  terakhir di Kampuang Cina, dekat rumah Shin Chi Hoo. Kelompok di Pengantungan  ini dipimpin Sema’un Bakry (Salah satu tokoh Muhammadiyah Bengkulu), Salmiah Pane (Guru Taman Siswa).

Kelompok kedua dipimpin Kakaung Gunadi dari Taman Siswa dan beberapa orang teman lainnya. Tepat pada waktu yang telah ditentukan, bus yang dinanti berhenti menurunkan pesisir di Pengantungan dan Bung Karno ada di dalamnya. Bung Karno kemudian  turun dan menyalami Sema’un Bakry dan Salmiah. Bung Karno mengatakan bahwa ia akan menginap di hotel Sentrum (Hotel Asia sekarang) sebagai tempat penginapan  sementara. Beberapa hari di Bengkulu, Bung Karno mencari tempat tinggal tetap. Beliau tinggal di kawasan Tanah Patah menyewa rumah milik H. Middin. Tempat  tinggalnya sangat indah pemandangannya ke Timur, dimana ada gunung Bungkuk kebanggaan masyarakat Bengkulu. Namun, Bung Karno tidak tinggal lama di sana.  Beliau kemudian pindah ke Anggut Atas (sekarang rumah itu dijadikan Museum Bung Karno).

Pages: 1 2 3 4

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>